Tuesday, 10 June 2014

THE BELIEF


More than 60 % of the population of Sumba are Marapu (a kind of religion which believes the ancestral s
pirit). The rest are Christian (both Catholic and Protestant). Only small numbers of the pupulation are Islam, Hinduism and Buddhism.
Marapu comes from two words Ma and Rappu which means Grandfather as a creator and source of life. The main teaching of the Marapu religion is believing in the temporary life in this world and the eternal life after death. Death means someone enters into the world of spirits namely in Marapu heaven - Prai Marapu. The spirits of the ancestors still alive and watch over the livings. Rituals and ceremonies are the way to keep and maintain a peaceful (blessings) relationship with the Marapu. As far as you obey the rule of ceremony, the Marapu will bestow you blessings such as: good relationship with family and neighbor, good health, the rice crop will multiply etc.
The word Marapu has different meanings, such as:
  1. the occupants of the eternal heaven, who lead a similar existence to men. They live in couples and one of these couples was the ancestor of the Sumbanese.
  2. the spirits of Sumbanese ancestors in Prai Marapu.
  3. the spirits of Sumbanese's relatives
  4. all spirits dwelling the universe. Marapu has mysterious and magical authority over human life.
So, Marapu has animistic, spiritual, and dynamic elements. This is obviously seen in every festival held in Sumbanese daily life that the festivals into magical factor strongly influencing the belief by placing spirits role as the main component. According to Marapu beliefs, any spirits consist of two elements i.e. Ndewa and Hamanangu. In short, the Marapu concepts are the teachings about the balance of the universal life through which the happiness can be gained. The balance is symbolized by the "Ina Mawolo" (Mother of being) and the "Ama Marawi" (Father of Creation). Ina Mawolo and Ama Marawi live in the universe and take the forms of the moon and the sun. In mythology, they were husband and wife who giving birth to the ancestors of the Sumbanese.
To honor the Marapu, the Sumbanese put effigies, called Marapu statues, on stone altars where they lay their offerings in the forms of Sirih Pinang (a dish containing betel leaves, nuts and lime) and sacrificial cattle such as: chickens, pigs or buffaloes. The statues of Marapu are made of wood in the shape of human faces. These images are usually placed in the yard of their houses or inside the traditional houses.
                                                       Marapu Priests of East Sumba waiting for funeral ceremony.


Marapu Priests in special dresses.

House of Marapu (dwelling place of Marapu)
According to the Marapu belief, the main house is a symbol of God's present in their village. It is located in the middle of the Kampung (village).



                                       These pictures were taken from different villages, but they have the same explanation.



Blood and Heart of Animals in Marapu Belief
Blood
In Sumba culture some animals such as, chicken, pig and buffalo are good offerings to Marapu. By shedding the blood of animals it symbolizes:
  • Life. We are grounding on earth and we live our life just because we have blood in our body. No blood it means no life.
  • Reconciliation (forgiveness) with the Marapu and with the other. New era and future are bound in the blood.
  • Fertilization. Shed the blood on the ground before rice plantation means ask for the Marapu to look after the field and will give a good harvest.
For the Marapu belief buffalo is an important animal for Marapu Ceremony such as funeral. Marapu priest gives the blessing to the buffalo which offers to Marapu and later will be slaughtered as appear in the pictures below. The heart of the buffalo will indicate the fate of the owner.



Heart
Heart is a “letter” to read the fate of human being. Who you are for the next year will predict through the heart of animal. It’s a glimpse of future. Even, if someone is sick or experienced so many problems can be read and getting to know the cause of the diseases and the troubles. Other word; what happened in the past, connecting to the present even in the future.
Smiling is a symbol: “You are good and blessed by Marapu”.

A glimpse of future - reading the fate of human being through the heart of Buffalo.

Wulla Poddu
Each year, in November, some tribes in Sumba (Loli, Waukaka, Sodan and Umbu Koba) celebrates a ritual namely Wulla Poddu. Lexically Wulla means month and Poddu means Bitter. So Wulla Poddu means holy month which all the people under some prohibitions or taboos such as to mourn the death, marriage, having party, building house etc. Actually, Wulla Poddu comes from agricultural custom. It is a time for thanksgiving to the Marapu especially before planting season. The end of Wulla Poddu there are some ceremonies such as hunting board and sacrificing chicken. Fat of the board and shedding blood of the chicken is good for Marapu. Whole families of the tribe gathering together and celebrate the dismissal of the Wulla Poddu. They share their story and food to each other. It’s a time of family reunion. Also a time for reconciliation to each other; forgive and forgiven! But, the main meaning of the Wulla Poddu is still there: may our land, harvest, cattle and good efforts will be blessed by Marapu.
Hunting for poddu (the holy month). Located at Umbu Koba village, Sumba Barat Daya. There is a tribe who believes that harmony of the ecosystem will be good if the human being look after the environment. The people of this tribe has a time for hunting, planting, for harvest, etc… And those times will be celebrated with a special ceremony as a way to ask for permission from Marapu so that the efforts and planns of humankind will be blessed.
A board caught by hunter as an offering to Marapu. According to the Marapu belief
the fat of animals such as pig is a good offering to Marapu.
Wulla Poddu of Umbu Koba - Shedding the blood of chicken for Marapu - May our land be fruitful!
Villager bring rice for offering to Marapu. Marapu Priest, ahead, lead the people
Marapu presented as a statute (totem) and placed in the middle of the village. Whole tribes gathering together as a family. They offer rice and meat to Marapu and also they share food to each other as a symbol of friendship and reconciliation.




ANAK MUDA

Menghindar atau Terjerumus?

Tak seperti biasanya, pada hari minggu ini ada yang beda. Tentu, hari minggu ini adalah hari raya Pentakosta. Hari dimana dalam agama Kristen merupakan hari turunnya Roh Kudus. Setelah Tuhan Yesus naik ke Surga sembilan hari sebelumnya. Tapi bukan itu perbedaannya. Waktu saya mengikuti misa di gereja St. Yusup Bintaran sore ini, ada hal menarik yang menggugah hati saya sebagai anak muda. Dimana sebelum kotbah, Romo memanggil adik – adik dari SMP dan SMA yang sebelum misa dimulai saya sempat melihat mereka berdiri di pintu masuk gereja. Rupanya mereka yang bertugas mingguan pada hari ini. Romo memanggil mereka dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah mereka perbuat. Maksudnya merekalah yang mendekor gereja sebagai rasa syukur mereka atas kelulusannya di SMP dan SMA. Bertanggung jawab atas gambar – gambar hasil dekorasi mereka. Terjawab sudah apa yang menjadi pertanyaan saya sewaktu masuk ke dalam gereja karena gambar – gambar yang dipajang sebagai dekorasi adalah daun ganja, botol minuman keras, setan, rokok dan gambar lain yang berhubungan dengan hal duniawi. Itu terletak di bagian belakang gereja dan yang di depan adalah gambar – gambar yang berhubungan dengan Surga. Di tengah gereja ada semacam sebuah pintu gerbang. Di bagian kiri umat adalah gambar anak panah biru dengan gambar malaikat sedang di sebelah kanan adalah gambar anak panah merah dengan gambar setan. Romo menyuruh mereka supaya maju kedepan untuk mengklarifikasi atau mempresentasikan apa maksud dari semua itu karena pasti akan ada umat yang heran atau bisa saja mengklaim bahwa gereja Katolik bukan  seperti yang dikenal selama ini. Salah seorang dari mereka menjawab pertanyaan dari romo bahwa mengapa mereka mendekor seperti itu karena sesuai tema hari raya pentakosta, yaitu : “Ku Tahu Ku kan Melangkah”. Sekarang ini pelajar banyak yang salah melangkah. Mereka menyalahgunakan hidup mereka dengan hal – hal duniawi seperti mabuk – mabukan, narkoba, dan lain – lain. Sehingga menyebabkan hidup mereka hancur, masa depan suram dan berakhir kalau bukan bertobat ya penjara, kalau bukan penjara ya mati. Itulah arti gambar – gambar yang di depan gereja. Di tengah gereja ada semacam pintu gerbang dimana pelajar atau anak muda mengambil keputusan. Apakah menghindar atau membiarkan diri mereka terjerumus. Memang sekarang ini anak muda mengalami krisis komitmen. Sekarang A besok B. Tidak bisa mempertahankan apa yang dari awal ia perjuangkan, seperti kata romo. Jika anak muda tergoda dengan hal – hal duniawi maka hidupnya akan seperti gambar – gambar di sebelah kanan. Jika iman kuat dan selalu bersama Tuhan maka akan terjadi sebaliknya. Itulah mereka mendekorasi gereja seperti itu. Terjawablah semua kegundahan di hati setiap umat. Itulah yang harus diperhatikan oleh anak muda bahkan para orang tua sekarang ini.

Thursday, 5 June 2014

GERUND II



Gerunds adalah kata kerja (verb) yang ditambah ing (verb + ing) dan berfungsi sebagai kata benda (noun). Dengan kata lain, gerund adalah kata kerja yang dibendakan/diubah menjadi kata benda dengan menambahkan ing.
Dalam kalimat bahasa Inggris, gerunds mempunyai peran sebagai:
Gerunds as subject
Gerunds as object
Gerunds as subjective complement
Gerunds as object of preposition
Gerunds after word “NO”
Gerunds after possessive adjective
Gerunds after certain verbs
Gerunds as appositive

1.      Gerunds as subject
Berikut ini contoh-contoh gerunds yang berfungsi sebagai subject:
1.      Reading is not my hobby.
2.      Swimming is better than running.
3.      Hiking can be very strenuous.

2.      Gerunds as object
1.      I like reading.
2.      She goes swimming every morning.
3.      Their favorite sport is running.

4.      Gerunds as Subjective Complement
Gerund sebagai pelengkap subjek dalam kalimat biasanya selalu didahului tobe  yang terletak di antara subject dan subjective complement, contoh:
1.      Her favorite sport is swimming.


5.      Gerunds as object of preposition
Gerund sebagai objek dari preposisi terletak setelah preposisi, misalnya; for, before, without, in, at, after, dll.
Contoh;
1.      I will wash the dishes after eating.
2.      You cannot be rich man without working.

6.      Gerunds after “NO”
Dalam kalimat larangan, kita sering memakai kata “No” dan setelahnya biasanya diletakkan verb + ing yaitu gerunds. Contoh:
1.      No Smoking!
2.      No parking in this area!

7.      Gerunds after possessive adjective
Gerunds juga sering kita jumpai setelah possessive adjective. Misalnya:
1.      Thanks for coming.

8.      Gerunds after certain verbs
Dalam bahasa Inggris, ada beberapa kata kerja tertentu yang bila kita ingin memasukan kata kerja sesudah kata kerja tersebut, maka kata kerja setelahnya harusnya berbentuk gerund atau verb + ing.
Berikut ini daftar kata kerja-kata kerja tersebut beserta contoh kalimatnya:
1.      Admit               :  He admitted cheating on the test.
2.      Advise              :  The doctor generally advised drinking low-fat milk.
3.      Allow                :  Ireland doesn't allow smoking in bars.
4.      Anticipate        :  I anticipated arriving late.
5.      Appreciate       :  I appreciated her helping me.
6.      Avoid                 :  He avoided talking to her.
7.      Begin                :  I began learning Chinese.
8.      can't bear         :  He can't bear having so much responsibility.
9.      can't help          :  He can't help talking so loudly.
10.  can't see           :  I can't see paying so much money for a car.
11.  can't stand        : He can't stand her smoking in the office.
12.  Cease               : The government ceased providing free healthcare.
13.  Complete         :  He completed renovating the house.
14.  Consider          ; She considered moving to New York.
15.  Continue           : He continued talking.
16.  Defend             : The lawyer defended her making such statements.
17.  Delay               : He delayed doing his taxes.
18.  Deny                : He denied committing the crime.
19.  Despise            : She despises waking up early.
20.  Discuss             : We discussed working at the company.
21.  Dislike              : She dislikes working after 5 PM.
22.  Mind                : I don't mind helping you.
23.  Dread               : She dreads getting up at 5 AM.
24.  Encourage        : He encourages eating healthy foods.
25.  Enjoy               : We enjoy hiking.
26.  Finish               : He finished doing his homework.
27.  forget               : I forgot giving you my book.
28.  hate                  : I hate cleaning the bathroom.
29.  Imagine            : He imagines working there one day.
30.  Involve             : The job involves traveling to Japan once a month.
31.  Keep                : She kept interrupting me.
32.   Like                : She likes listening to music.
33.  Love                : I love swimming.
34.  Mention            : He mentioned going to that college.
35.  Miss                 : She misses living near the beach.
36.  neglect              : Sometimes she neglects doing her homework.
37.  permit               : California does not permit smoking in restaurants.
38.  Postpone          : He postponed returning to Paris.
39.  Practice            : She practiced singing the song.
40.  Prefer               : He prefers sitting at the back of the movie theater.
41.  propose            : I proposed having lunch at the beach.
42.   quit                  : She quit worrying about the problem.
43.  Recall               : Tom recalled using his credit card at the store.
44.  Recollect          : She recollected living in Kenya.
45.  Recommend     : Tony recommended taking the train.
46.  regret               : She regretted saying that.
47.  Remember        : I remember telling her the address yesterday.
48.  Report              : He reported her stealing the money.
49.  require              : The certificate requires completing two courses.
50.  Resent              : Nick resented Debbie's being there.
51.  Resist               : He resisted asking for help.
52.  Risk                 : He risked being caught.
53.  Start                 : He started studying harder.
54.  Stop                 :  She stopped working at 5 o'clock.
55.  Suggest            : They suggested staying at the hotel.
56.  Tolerate            : I tolerated her talking.
57.  Try                   : Sam tried opening the lock with a paperclip.
58.  Understand       : I understand his quitting.
59.  Urge                 :They urge recycling bottles and paper

9.      Gerunds as appositive
Gerund sebagai aposisi atau penegas dalam kalimat, contoh:
·  His method, shooting and killing, eventually came to an end.
·  She has a bad habit, gambling.
·  Her favorite exercise, swimming in the pool, makes her body strong.

·  That difficult work, sawing hard woo, makes him exhausted.

Gerund I

THE GERUND

This looks exactly the same as a present participle, and for this reason it is now common to call both forms 'the -ing form'. However it is useful to understand the difference between the two. The gerund always has the same function as a noun (although it looks like a verb), so it can be used:

A. As the subject of the sentence:

- Eating people is wrong.
- Hunting tigers is dangerous.
- Flying makes me nervous.

B. As the complement of the verb 'to be':

- One of his duties is attending meetings.
- The hardest thing about learning English is understanding the gerund.
- One of life's pleasures is having breakfast in bed.

C. After prepositions. The gerund must be used when a verb comes after a preposition:

- Can you sneeze without opening your mouth?
- She is good at painting.
- They're keen on windsurfing.
- She avoided him by walking on the opposite side of the road.
- We arrived in Madrid after driving all night.
- My father decided against postponing his trip to Hungary.
This is also true of certain expressions ending in a preposition, e.g. in spite of, there's no point in..:
- There's no point in waiting.
- In spite of missing the train, we arrived on time.

D. After a number of 'phrasal verbs' which are composed of a verb + preposition/adverb

Example:
To look forward to, to give up, to be for/against, to take to, to put off, to keep on:
-          I look forward to hearing from you soon. (at the end of a letter)
-          When are you going to give up smoking?
-          She always puts off going to the dentist.
-          He kept on asking for money.

NOTE:
 There are some phrasal verbs and other expressions that include the word 'to' as a preposition, not as part of a to-infinitive: - to look forward to, to take to, to be accustomed to, to be used to. It is important to recognise that 'to' is a preposition in these cases, as it must be followed by a gerund:
-          We are looking forward to seeing you.
-          I am used to waiting for buses.
-          She didn't really take to studying English.
It is possible to check whether 'to� is a preposition or part of a to-infinitive: if you can put a noun or the pronoun 'it' after it, then it is a preposition and must be followed by a gerund:
-          I am accustomed to it (the cold).
-          I am accustomed to being cold.

E. In compound nouns

Example:
-          A driving lesson, a swimming pool, bird-watching, train-spotting
-          It is clear that the meaning is that of a noun, not of a continuous verb.
Example:
-  The pool is not swimming, it is a pool for swimming in.

G. After the expressions:

Can't help, can't stand, it's no use/good, and the adjective worth:
-          She couldn't help falling in love with him.
-          I can't stand being stuck in traffic jams.
-          It's no use/good trying to escape.

-          It might be worth phoning the station to check the time of the train.

Wednesday, 4 June 2014

KEKERASAN MASIH TERJADI DI SEKOLAHKU



Sekolah adalah suatu lembaga dimana kita dapat mengenyam pendidikan yang layak untuk hidup dan kehidupan kita. Dengan  pendidikan, kita dibentuk menjadi insan - insan yang berbudi pekerti luhur. Anak sejak lahir sudah mendapat pendidikan dari orang tuanya dalam lingkungan keluarga. Tetapi, bagaimana pun juga, itu tidak cukup untuk menjadi manusia yang insani. Anak - anak harus mendapatkan pendidikan di lingkungan sekolah walaupun di lingkungan masyarakat dia bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan dan orang sekitarnya. Pendidikan di sekolah mulai dari SD,SLTP,SLTA dan sampai pada perguruan tinggi menjadi patokan utama dalam membuat karakter anak karena di sana dia akan mendapat ilmu pengetahuan yang jauh lebih banyak dari lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Waktu saya belum masuk di SD,saya adalah seorang anak yang mempunyai rasa keingintahuan yang besar. Pada masa anak-anak sangat hiperaktif dalam bermain dan bertanya jika ada sesuatu yang saya tidak tahu atau kurang paham. Sebagai salah satu contoh adalah saya pernah bertanya kepada Ibu saya, waktu saya lahir, saya lawat dimana? Itu pertanyaan konyol tapi serius. Tentu saja, Ibu saya berbohong dengan mengatakan waktu saya lahir dari dalam perut keluar lewat mulut. Saya belum puas dan merasa terbohongi dengan mengatakan kalau lahirnya lewat mulut itu tidak mungkin karena lubangnya terlalu kecil dan pastinya gigi Ibu saya akan melukai tubuh saya. Dengan bingung Ibu saya berkata:”Nanti kamu akan tahu sendiri kalau kamu sudah besar”. Saya belum puas juga dan lari menghampiri ayah dengan menanyakan hal yang sama. Ayah saya hanya tersenyum lalu mengatakan hal yang sama pula. Dia juga mengatakan  pada waktu saya lahir, besarnya hanya sebesar tongkol jagung. Setelah keluar dan terkena udara luar baru membesar. Dari jawaban bapak, saya merasa puas walaupun itu adalah bohong.
Suatu hari,saya sedang asyik menggambar rumah di tanah. Kakek saya datang menghampiri dan mengajari saya menulis huruf A-Z dan angka 1-20. Saya bertanya "buat apa ini?" Kakek menjawab:”Nanti kalau sudah masuk sekolah baru tahu untuk apa ini. Nah,sekarang latihan menulis! Saya hanya mengikuti saja dan berhasil menulis itu semua. Hanya angka” 3” yang sulit karena saya tulis seperti huruf “M”. Kakek juga menambahkan kalau itu untuk bekal nanti masuk sekolah. Jadi, setelah masuk SD, saya sudah bisa menulis angka dan huruf walaupun TK atau playgroup tidak ada pada waktu itu.
Tibalah saatnya masuk SD. Dengan perasaan senang karena sudah bisa sekolah dan mendapat banyak teman. Sekolah adalah tempat dimana saya mendapat banyak teman. Itulah yang saya tahu tentang sekolah. Saya tidak tahu pengetahuan itu apa. Disana berbeda dengan di rumah. Maksud saya, kalau di rumah, apapun yang kita lakukan terserah dan orang tua tidak melarang semua itu, kecuali yang berbahaya dan ekstrim. Di sekolah yang selama ini saya banggakan dan saya impikan bukan seperti yang saya bayangkan. Bila tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru tersebut, akan dipukul. Terlambat saja dipukul. Pemukulnya pun bermacam-macam. Mulai dari rotan, kabel kopling, akar asam, sapu, kayu bahkan penggaris kayu yang selama ini dijadikan untuk menggaris dipapan tulis, dijadikan alat untuk memukul siswa yang bandel. Bertanya dan tidak bertanya, rebut maupun tidak, tetap terkena pukulan karena satu orang salah berarti semua salah, seperti SCTV, satu untuk semua. Bagaimana bisa bertanya kalau gurunya kejam dan bengis. Semua mereka lakukan sampai mereka puas. Anak mau lapor kepada orang tua, orangtua yang menyuruh guru supaya di didik.Semua serba salah. Anak seperti mayat berjalan seperti Pak BambangWisudo katakan bulan lalu dalam pelatihan dengan tema Pendidikan Nasional. Kalau membuat kesalahan yang ringan, murid disuruh lari keliling gedung sekolah selama jam pelajaran dan berdiri menatap matahari bila terlambat ke sekolah. Ini adalah kekerasan dalam sekolah yang semestinya anak-anak belajar tetapi disuruh timba air  dari kali kerumah Kepala Sekolah guna memenuhi keperluan mencuci, mandi dan sebagainya.
Sekolah merupakan penjara bagi anak-anak yang mempunyai kreatifitas tetapi terkubur dengan adanya kekerasan tersebut. Sekolah tidak lagi merupakan tempat untuk kita mendapatkan ilmu pengetahuan tetapi merupakan neraka bagi siswa-siswi. Namun demikian, mungkin karena di sana adalah wilayah timur Indonesia jadi, watak keras itu akan selalu ada. Anak yang ingin protes atau demo dengan cara membolos, absent, bahkan ada yang memaki-maki guru, tetapi itu adalah cara-cara yang negative dan merugikan orang lain.
Dari sejak masuk sampai tamat SD, cara mengajar guru masih tetap sama yaitu, dengan menyisipkan kekerasan demi kekerasan dalam setiap jam mengajar. Anak yang didiktator dan yang biasa diancam  akan berdampak negative bagi psikisnya. Istilahnya, mental anak ada pada masa kecilnya. Bila masa itu mental tidak di explor atau tidak diuji, maka dewasanya akan susah diubah.

Ada seorang anak bertanya dan anak ini dianggap agak berani menghadapi guru-guru,katanya:”Mengapa hari-hari kami selalu dipukuli? Mengapa harus ada kekerasan?" Guru itu menjawab:”karena kami dulu dididik dengan keras.Kami keras untuk kebaikan kalian”.Kami semua tahu bahwa mereka mengajar kami supaya kami menjadi anak yang pintar,berbakti kepada Tuhan,orang tua serta guru.

Sunday, 1 June 2014

BONSAI



Seorang juru tanaman melihat kenanga yang sangat indah. Tanpa membuang-buang waktu ia mengambil pot. Tetapi pot yangdiambil sangat pendek dan ceper,secara normal tidak mungkin pot dapat menampung pohon kenanga yang besar itu.
“Wahai juru taman akan kau apakan aku ini?”
“Kamu akan kutanam dalam pot.”
“Pot ini sangat kecil sehingga tidak mungkin mampu menopang kehidupanku selanjutnya sebab tubuhku besar dengan cabang-cabangku sangat rimbun!”
“Oleh sebab itu seluruh cabangmu akan kupangkas dan sebagian tubuhmu akan kupotong!”
“Mengapa hal itu kau lakukan?”
“Aku ingin membentukmu menjadi tanaman yang kerdil dalam pot sehingga terciptalah bonsai kenanga yang cukup indah!”
“Belum puaskah engkau mengerdilkan sesamamu dalam kepalamu sehingga kamu mengerdilkan aku dalam pot kecil dan ceper milikmu itu. Sungguh tiada ciptaan yang paling kejam kecuali ciptaan yang bernama manusia yang menemukan keindahan dengan mengerdilkan yang lain!”
“Hai kenanga dari mana engkau tahu,aku sering menegrdilkan sesamaku?”
“Aku sering mendengar dari angin,bahwa manusia sering bersikap kjam dengan mengerdilkan saudaranya!”
“Itu bohong,apa buktinya?”
“Kau sering melihat,membicarakan,mengamati,memikirkan bahkan mencari-cari kesalahan orang lain. Kemudian dengan semena-mena kau memberikan cap “tidak bermoral, penjahat, pengecut,penjilat” dan lain-lain kepada sesamamu menurut seleramu sendiri.
Dengan cap tersebut saudaramu akan mudah untuk dihakimi. Ini akan mengganggu perkembangan  kehidupan jasmani maupun perkembangan batinnya. Sebab bila ada satu titik kesalahan pada saudaramu akan kau tarik menjadi sebuah jalan yang tiada putus seakan dia menjadi orang yang paling buruk di dunia ini.
Sementara itu teman-temanmu yang mndengar cap darimu akan ikut-ikutan menambah cap itu semakin dalam tanpa tahu duduk persoalannya!”
Nicolaus Wahyu Sulistiyana.


Wednesday, 12 March 2014

Suku Sumba

Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas empat kabupaten, Sumba Barat Daya,Sumba barat,Sumba Tengah,dan Sumba Timur. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya di tengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Kepercayaan khas daerah Marapu, setengah leluhur, setengah dewa, masih amat hidup di tengah-tengah masyarakat Sumba asli. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat, rumah-rumah ibadat (Uma Ratu),rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya, ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata.

Di Sumba Timur,strata sosial antara kaum bangsawan (Maramba), pemuka agama (Kabisu) dan rakyat jelata (Ata) masih berlaku, walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat, upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponen-komponen busana yang dipakai adalah buatan baru. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari.
Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut, yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial, ekonomi.

Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa ini cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata, tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. Menilik hal-hal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar, upacara, pesta-pesta dan sejenisnya. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala, penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam.
Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Hinggi kaworu atau kadang-kadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. Di kepala dililitkan tiara patang, sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. Jambul inilah dapat diletakkan di depan, samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu.
Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak), udang, ayam, ular, naga, buaya, kuda, ikan, penyu, cumi-cumi, rusa, burung, kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga, bendera tiga warna, mahkota dan singa. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi, alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. Warna hinggi juga mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu.
Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki, namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. Kabiala adalah lambang kejantanan, muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan, keperkasaan serta budi baik seseorang.

Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu, lau pahudu, lau mutikau dan lau pahudu kiku. Kain-kain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung.
Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga, sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher, menjurai ke bagian dada.
Kategori: Suku bangsa di Indonesia