Sunday, 15 June 2014

LONA KAKA DAN LONA RARA



Lona Kaka dan Lona Rara adalah dua orang kakak-beradik yang tinggal di Desa Bukambero, Kodi, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Di mana pun pergi, kedua kakak-beradik tersebut senantiasa selalu bersama dan saling membantu. Pada suatu hari, sang Adik, Lona Rara, sangat marah kepada kakaknya, sehingga berniat untuk menghilangkan nyawanya. Mengapa Lona Rara sangat marah kepada kakaknya? Berhasilkah ia menghabisi nyawa kakaknya? Ikuti kisahnya dalam cerita Lona Kaka dan Lona Rara berikut ini!

* * *
Alkisah, di Desa Bukambero, Kodi, Sumba Barat, hiduplah sepasang suami-istri bersama dua orang anak gadisnya. Yang sulung bernama Lona Kaka, sedangkan si bungsu bernama Lona Rara. Kedua kakak-beradik tersebut senantiasa mendapat perlakuan yang sama dari orang tua mereka. Namun, Lona Kaka selalu iri hati jika Lona Rara meraih sebuah keberhasilan. Ia pun selalu berusaha untuk mencelakai adiknya itu jika memperoleh keberhasilan.
Pada suatu hari, ketika Lona Rara mendapat hadiah dendeng istimewa dari orang tua mereka karena berhasil memenangkan lomba menumbuk padi, Lona Kaka bermaksud untuk merampas dendeng itu dari tangan adiknya. Untuk itu, ia membujuk adiknya agar mau menemaninya mengambil air di sungai. Ia pun menyuruh adiknya untuk berjalan di depannya. Dengan begitu, ia akan lebih mudah mengambil dendeng itu tanpa sepengetahuan adiknya.
“Adikku! Maukah kamu menemani Kakak mengambil air di sungai?” bujuk Lona Kaka.
“Baiklah, Kak!” jawab Lona Rara menuruti bujukan kakaknya.
Keduanya pun berjalan menuju ke sungai sambil memikul dua buah wadah air yang terbuat dari bambu. Lona Rara berjalan di depan, sedangkan Lona Kakak mengikutinya dari belakang. Tanpa curiga sedikit pun, Lona Rara menyimpan dendengnya di wadah airnya yang belakang. Beberapa kali Lona Kaka berusaha untuk mengambil dendeng itu, namun tidak berhasil karena selalu ketahuan Lona Rara. Meski begitu, Lona Kaka tidak kehabisan akal. Setibanya di sungai, ia segera turun ke sungai mendahului adiknya untuk mengambil air. Setelah mengisi wadah airnya hingga penuh, ia kembali naik ke darat dan menyandarkan wadah airnya pada sebuah batang pohon.
“Adikku, Kakak sudah selesai. Kini giliranmu untuk mengisi wadah airmu. Sini Kakak bantu membawakan dendengmu agar kamu dapat mengambil air dengan leluasa!” ujar Lona Kaka.
Lona Rara pun menyambut baik tawaran kakaknya. Setelah menitipkan dendeng miliknya kepada Lona Kaka, ia segera turun ke sungai untuk mengambil air. Namun, baru mengisi setengah wadah airnya, tiba-tiba ia mendengar kakaknya berteriak.
“Rara...! Rara..! Dendengmu dicuri dan dibawa lari anjing!” teriak Lona Kaka seraya mengejar anjing itu.
Rupanya, Lona Kaka sengaja memberikan dendeng milik adiknya ke anjing itu, lalu berpura-pura mengejarnya. Lona Rara yang mendengar teriakan kakaknya segera naik ke darat dan membiarkan tempat airnya tergeletak di pinggir sungai. Melihat kakaknya mengejar anjing itu, ia pun turut mengejar hingga ke tengah hutan. Tanpa disadarinya, ternyata kakaknya telah pergi meninggalkannya. Sementara ia terus menyusuri hutan lebat itu hingga hari menjelang malam, namun ia tidak menemukan anjing yang membawa dendengnya. Saat akan kembali ke rumahnya, ia tersesat. Ia berjalan menyusuri hutan itu mengikuti ke mana arah kakinya melangkah hingga akhirnya menemukan sebuah sungai dan memutuskan untuk beristirahat. Ia duduk di atas sebuah batu besar di tepi sungai sambil bernyanyi mengungkapkan kekesalannya terhadap tindakan kakaknya.
Ou kagu pama nowo ragu
Pai balimu lolokingga neghe
Mu gaiga zauwa kako kania
Ou Gela wuamaroto padua pogawa atenggu
Gaika ku bali wainya

Ou kakakku yang kucinta
Mengapa kau membuat aku begini
Membiarkan aku jalan sendiri
Ou Gela Wuamaroto berilah aku kedamaian
Tuntunlah aku kembali ke rumah

Usai bernyanyi, Lona Rara membuka pakaiannya yang sudah kotor lalu mencucinya dan mandi. Saat sedang asyik mandi, tiba-tiba ia melihat sebatang pohon jeruk yang berbuah lebat tumbuh di tepi sungai. Setelah melihat di sekelilingnya dan tidak melihat adanya orang lain di sekitar itu, ia segera memetik satu buah jeruk untuk dijadikan pewangi tubuh. Betapa terkejutnya ia ketika membelah buah jeruk itu, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan dan gagah di hadapannya. Ia pun langsung menjerit karena ia masih dalam keadaan tanpa busana. Ia sangat malu, karena pemuda itu telah melihat bagian tubuhnya yang selama ini ditutupinya. Menyadari hal itu, dengan kesaktiannya, pemuda tampan itu segera memberikan sebuah kain tenun Sumba yang indah kepada Lona Rara. Lona Rara pun segera memakai kain tenun itu untuk menutupi tubuhnya.
“Hai, pemuda tampan! Kenapa engkau tiba-tiba muncul dari dalam buah jeruk itu?” tanya Lona Rara dengan malu-malu.
“Maaf, Putri! Bukankah Putri sendiri yang meminta bantuan kepadaku?” jawab pemuda itu sambil menunduk untuk memberi hormat di hadapan Lona Rara.
“Siapa sebenarnya engkau ini?” Lona Rara kembali bertanya.
“Saya adalah Gela Wuamaroto seperti yang Putri dendangkan dalam lagu itu. Saya datang untuk mengantar Putri pulang ke rumah dan memberikan ketenteraman kepada Putri,” ujar pemuda tampan yang mengaku bernama Gela Wuamaroto.
Hati Lona Rara menjadi senang bercampur heran, karena tidak menyangka nyanyiannya telah menjadi kenyataan. Hari pun sudah mulai gelap. Gela Wuamaroto mengajak Lona Rara mencari tempat beristirahat. Setelah menemukan sebuah gua yang cukup luas, Gela Wuamaroto segera membuat api unggun dan menangkap seekor ayam hutan untuk makan malam. Usai makan, mereka pun langsung tertidur pulas.
Keesokan harinya, Lona Rara sangat terkejut, karena didekatnya telah tersedia ayam panggang.
“Hai, kenapa masih ada ayam panggang di sini? Bukankah ayam panggang yang tadi malam sudah habis?” gumam Lona Rara.
Melihat Lona Rara terbangun, Gela Wuamaroto yang sedang berdiri di depan pintu gua segera menghampirinya.
“Maaf Putri! Saya yang menyediakan ayam panggang itu untuk sarapan kita berdua,” ujar Gela Wuamaroto sambil tersenyum.
Lona Rara dan Gela Wuamaroto pun segera menyantap ayam panggang itu. Setelah itu, mereka saling berkenalan, saling jatuh cinta, dan akhirnya mereka pun menikah. Karena asyik dimabuk cinta, Lona Rara menjadi lupa untuk kembali ke rumahnya. Demikian pula, Gela Wuamaroto, ia lupa untuk mengantar pulang Lona Rara. Sepasang pengantin baru itu keasyikan menikmati hari-hari yang indah bersama di tengah hutan tersebut, sehingga tak terasa sudah satu bulan mereka hidup bersama.
Suatu hari, Lona Rara tiba-tiba teringat kepada keluarganya. Ada kerinduan di hatinya ingin segera pulang dan bertemu dengan mereka.
“Kanda! Kapan Kanda akan mengantar Dinda menemui keluarga Dinda?” tanya Lona Rara.
“Besok, Dinda,” jawab Gela Wuamaroto.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Lona Rara dan suaminya bersiap-siap pulang ke rumahnya. Sebelum berangkat, Gela Wuamaroto memberikan pakaian tenun Sumba yang sangat indah kepada Lona Rara untuk dihadiahkan kepada keluarganya. Setelah menempuh perjalanan selama setengah hari, sampailah mereka di Desa Bukambaro. Saat Lona Rara memasuki desa, seluruh warga terheran-heran melihat kedatangannya. Apalagi ia datang bersama dengan seorang pemuda yang gagah dan tampan. Sambil tersenyum-senyum, Lona Rara berjalan di samping suaminya menuju ke rumahnya. Saat tiba di halaman rumah, ia melihat rumahnya tampak sepi dan pintu rumahnya tertutup rapat.
“Ayah...Ibu...! Rara pulang!” teriak Lona Rara dengan perasaan gembira.
Berkali-kali Lona Rara berteriak, namun tak ada jawaban. Beberapa saat kemudian, barulah pintu rumahnya terbuka pelan-pelan. Saat pintu terbuka, tampaklah kakaknya, Lona Kaka, sedang membuka pintu dan berdiri di depan pintu dengan wajah memerah. Ia seakan tidak percaya bahwa adiknya masih hidup. Ia pun langsung memeluk Lona Rara.
“Maafkan aku, Adikku! Kakak telah meninggalkanmu seorang diri di tengah hutan,” ucap Lona Kaka.
“Sudahlah, Kak! Yang penting Adik selamat dan bisa kembali berkumpul bersama kalian,” bujuk Lona Rara.
“O iya, Kak! Ayah, Ibu ke mana? Kenapa mereka tidak kelihatan?” tanya Lona Rara heran.
Mendengar pertanyaan itu, Lona Kaka kembali memeluk adiknya dengan erat sambil meneteskan air mata.
“Adikku! Ayah dan Ibu sudah tiada. Mereka telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya,” jawab Lona Kaka dengan sedih.
“Apa yang terjadi dengan Ayah dan Ibu, Kak?” desak Lona Rara.
Lona Kaka pun menceritakan musibah yang telah menimpa kedua orang tua mereka.
“Sebulan yang lalu, Ayah dan Ibu mendapat celaka saat mencari Adik di tengah hutan. Seorang warga menemukan mereka di tengah hutan dalam keadaan terluka parah dan tidak bernyawa lagi akibat digigit binatang buas,” jelas Lona Kaka.
Mendengar keterangan itu, Lona Rara pun tidak sanggup menahan air mata. Ia menangis tersedu-sedu meratapi kepergian Ayah dan Ibu yang sangat dicintainya. Sejenak, suasana di depan rumah yang sederhana itu pun tiba-tiba menjadi hening. Beberapa saat kemudian, Lona Rara meminta kepada kakaknya agar mengantarnya ke tempat pemakaman kedua orang tua mereka. Sesampainya di depan kuburan kedua orang yang dicintainya itu, Lona Rara kembali menangis tersedu-sedu menyesali semua peristiwa yang telah terjadi.
“Sudahlah, Dinda! Semuanya sudah diatur oleh Yang Mahakuasa. Ayo kita kembali ke rumah!” bujuk Gela Wuamaroto.
Lona Rara bersama suami dan kakaknya pun kembali ke rumah. Beberapa hari kemudian, setelah kesedihannya hilang, Lona Rara menceritakan semua peristiwa yang dialaminya ketika tersesat di hutan kepada kakaknya. Mendengar cerita itu, timbullah keinginan Lona Kaka untuk pergi ke tempat di mana adiknya bertemu dengan Gela Wuamarota, dengan harapan dirinya pun akan bernasib sama seperti adiknya.
Keesokan harinya, secara diam-diam, Lona Kaka pergi sendirian ke tempat itu. Sebelum mandi, ia memetik satu buah jeruk yang sudah menguning. Begitu ia membelah jeruk itu, bukannya pemuda tampan yang muncul, melainkan seorang lelaki tua berjenggot putih. Ia pun langsung menjerit ketakutan dan berlari meninggalkan tempat itu. Dalam hatinya tersimpan rasa penyesalan yang begitu mendalam karena tidak memetik buah jeruk yang masih muda.
Sesampainya di rumah, Lona Kaka langsung duduk termenung di samping rumahnya. Dalam ketermenungannya, tiba-tiba muncul dalam pikirannya ingin merebut suami adiknya. Ia tinggal menunggu waktu yang paling tepat untuk menjalankan niat busuknya itu.
Pada suatu malam, Gela Wuamaroto meminta izin kepada Lona Rara untuk pergi berdagang bersama beberapa warga desa lainnya ke negeri seberang.
“Dinda! Kanda ingin berdagang ke negeri seberang. Barangkali Kanda harus pergi dalam waktu yang cukup lama. Apakah Dinda bersedia mengizinkan Kanda?” bujuk Gela Wuamaroto.
“Baiklah, Kanda! Dinda mengizinkan. Tapi jangan lupa mampir ke rumah paman untuk memberinya oleh-oleh ketika kembali nanti,” ujar Lona Rara tersenyum.
“Baiklah, Dinda!” jawab Gela Wuamaroto sambil menatap wajah istrinya dengan penuh cinta.
Keesokan harinya, berangkatlah Gela Wuamaroto ke negeri seberang bersama beberapa warga desa lainnya. Seminggu setelah kepergian Gela Wuamaroto, Lona Kaka pun mulai menyusun siasat untuk menghilangkan nyawa Lona Rara agar dapat merebut suaminya. Pada suatu hari, ia mengajak adiknya itu mencari kayu bakar di hutan. Setelah berjalan cukup jauh ke tengah hutan, sampailah mereka pada sebuah jurang yang cukup dalam.
“Adikku! Kita beristirahat di sini dulu. Kakak capek berjalan jauh,” ujar Lona Kaka.
Lona Kaka dan adiknya pun beristirahat tidak di dekat jurang itu. Setelah rasa lelah mereka hilang, Lona Kaka memanjat sebuah pohon yang rantingnya telah kering di tepi jurang yang terjal. Saat berada di atas pohon, ia meminta kepada adiknya untuk membawakannya parang yang sengaja ditinggalkan di dekat adiknya.
“Aduh, Adikku! Kakak lupa membawa parang. Tolong ambilkan parang yang ada di dekatmu itu!” seru Lana Kaka dari atas pohon.
Tanpa curiga sedikit pun, Lona Rara ikut memanjat pohon untuk memberikan parang itu kepada kakaknya. Sesampainya di atas pohon, ia menyerahkan parang itu kepada kakaknya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya berpegangan pada sebuah ranting yang kering. Begitu mengambil parang itu dari tangan kiri adiknya, pada saat yang bersamaan, Lona Kaka juga menginjak ranting tempat Lona Rara berpegangan hingga patah. Tak ayal lagi, Lona Rara pun terjatuh dari atas pohon dan terguling-guling hingga ke dasar jurang.
Melihat kejadian itu, Lona Kaka bukannya menolong adiknya, melainkan tersenyum sinis.
“Rasakanlah itu, Rara! Gela Wuamaroto akan menjadi milikku!” seru Lona Kaka.
Dengan perasaan puas dan gembira, Lona Kaka turun dari pohon itu dan kemudian pulang ke rumahnya. Sesampainya di desa, ia berpura-pura sedih meratapi nasib adiknya. Seluruh warga pun turut berduka cita mendengar berita duka tersebut. Namun, Lona Kaka tidak mengira jika ternyata adiknya masih hidup. Rupanya, ketika Lona Rara terjatuh ke jurang itu, tubuhnya tersangkut pada tanaman yang menjalar di tebing. Berkat usahanya memanjat tebing yang curam itu, ia berhasil sampai ke puncak tebing dan selamat.
Sesampainya di atas, Lona Rara pun berteriak-teriak memanggil kakaknya.
“Kakak! Kamu di mana?” teriaknya.
Beberapa kali Lona Rara berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari kakaknya. Ia pun menyadari bahwa ternyata kakaknya telah berniat jahat kepadanya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk langsung ke rumah pamannya. Setelah dua hari menempuh perjalanan, sampailah ia di rumah pamannya. Ia pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya dan rencana jahat sang Kakak kepada pamannya.
Beberapa hari kemudian, Gela Wuamaroto pun kembali dari rantauannya untuk membawakan oleh-oleh kepada pamannya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat istrinya berada di tempat itu.
“Hai, Dinda! Kenapa Dinda ada di sini?” tanya Gela Wuamaroto dengan heran.
Melihat suaminya datang, Lona Rara pun langsung memeluknya dengan erat. Kemudian ia menceritakan semua peristiwa yang telah dialaminya hingga ia bisa berada di rumah pamannya. Mendengar cerita istrinya, Gela Wuamaroto pun bercerita bahwa selama ini Lona Kaka selalu merayunya.
“Ketahuilah, Dinda! Andai kata iman Kanda lemah, tentu Kanda telah jatuh dipelukan kakak Dinda. Selama ini dia sering merayu Kanda saat Dinda tidak berada di rumah. Itulah sebabnya, Kanda memutuskan untuk pergi merantau agar Kanda terhindar dari rayuan manisnya,” ungkap Gela Wuamaroto.
Mendengar pengakuan suaminya, Lona Rara pun naik pitam. Ia sangat marah terhadap sikap dan perbuatan kakaknya.
“Huh, Dinda harus membalas perbuatan Kak Lona Kaka!” seru Lona Rara dengan geramnya. Gela Wuamaroto pun sejenak. Ia mencoba untuk memahami perasaan istrinya. Setelah itu, ia mencoba untuk membujuknya agar mengurungkan niatnya membalas dendam.
“Maaf, Dinda! Kanda tidak bisa berkata apa-apa. Lona Kaka adalah kakak Dinda satu-satunya. Perbuatannya memang jahat, tapi apakah kita juga harus meniru perbuatan jahatnya itu?” bujuk Gela Wuamaroto.
“Tidak, Kanda! Sejak dulu Kak Lona Kaka selalu iri dan dengki terhadap Dinda. Dia sudah berkali-kali berusaha ingin mencelakai Dinda. Jika hal ini dibiarkan terus, suatu saat dia akan membunuh Dinda,” ujar Lona Rara.
Mendengar keteguhan tekad istrinya, Gela Wuamaroto pun tak sanggup berbuat apa-apa. Akhirnya, pada malam harinya, Lona Rara dan suaminya segera menyusun siasat untuk membalaskan dendamnya kepada Lona Kaka. Mereka memesan dua buah peti yang berukir sangat indah. Peti yang satu akan mereka isi dengan perhiasan emas dan berlian, sedangkan untuk peti yang satunya Lona Rara akan masuk ke dalamnya sambil membawa sebuah pisau yang runcing dan tajam.
Keesokan harinya, berangkatlah Gela Wuamaroto ke kampung untuk menemui Lona Kaka. Ia berangkat dengan menunggang kuda dan membawa serta seekor kuda beban yang mengangkut kedua peti yang berisi perhiasan dan berisi Lona Rara tersebut. Sesampainya di kampung halaman istrinya, Gela Wuamaroto segera menuju ke rumah istrinya. Lona Kaka yang sedang asyik menenun segera bangkit untuk menyambut kedatangan Gela Wuamaroto.
“Maafkan aku, Gela Wuamaroto! Aku tidak dapat menjaga Adik Lona Rara,” kata Lona Kakak sambil berpura-pura menangis.
“Apa yang terjadi dengannya, Kakak Ipar?” Gela Wuamaroto pun berpura-pura bertanya.
“Lona Rara meninggal dunia, karena dimakan buaya saat kami sedang mandi di sungai,” jawab Lona Kaka dengan muka sedih.
Mendengar keterangan itu, Gela Wuamaroto berpura-pura terkejut dan terlihat murung. Ia kemudian turun dari kudanya dan menambatkan kedua kudanya pada batang pohon di depan rumah. Ketika ia menurunkan kedua peti itu dari kudanya, Lona Kaka menghampirinya.
“Apa isi peti itu, Gela?” tanya Lona Kaka ingin tahu.
Dengan wajah murung, Gela Wuamaroto menyuruh Lona Kaka untuk membuka salah satu dari kedua peti itu. Ketika Lona Kaka membuka peti itu, matanya langsung terbelalat melihat isi peti yang terdiri dari berbagai macam perhiasan emas dan berlian. Setelah Lona Kaka melihat isi peti itu, Gela Wuamaroto menyuruhnya untuk membuka peti yang satunya.
“Kakak Ipar! Buka dan ambillah semua isi peti yang satu itu! Aku hadiahkan untukmu,” ujar Gela Wuamaroto.
Dengan perasaan senang dan gembira, Lona Kaka pun segera membuka peti yang masih tertutup rapat itu. Begitu peti itu terbuka, tiba-tiba Lona Rara meloncat keluar dan menikamkan pisaunya berkali-kali ke arah dada kakaknya.
“Terimalah pembalasanku ini, Kak!” teriak Lona Rara.
Tak ayal lagi, Lona Kaka pun tewas seketika dengan bersimbah darah. Melihat kakaknya terkapar di tanah dalam keadaan tidak bernyawa, Lona Rara pun berteriak histeris. Ia sangat menyesal atas apa yang baru saja dilakukannya. Namun,  apalah guna menyesal kemudian. Nasi sudah menjadi bubur. Nyawa kakaknya tidak dapat ditolong lagi.
* * *
Demikian cerita Lona Kaka dan Lona Rara dari daerah Nusantara Tenggara Timur. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik, yaitu: akibat buruk dari sifat suka iri hati dan pendendam. Sifat iri hati ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Lona Kaka, sedangkan sifat pendendam terlihat pada perilaku Lona Rara. Dalam kehidupan orang Melayu, kedua sifat tersebut harus dijauhi karena dapat mengakibatkan terjadinya perselisihan, perpecahan, dan bahkan pembunuhan antarsesama saudara. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
kalau suka iri mengiri,
sahabat menjauh, saudara pun lari
kalau tak mau bermaaf-maafan,
hidup selalu dalam permusuhan.

Sumber:
    Isi cerita diadaptasi dari Gregor Neonbasu SVD. “Lona Kaka dan Lona Rara”, dalam Cerita Rakyat Dari Nusa Tenggara Timur. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
    Tenas Effendy. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Proyek Pengembangan Seni Budaya Riau Bappeda Tingkat I Riau.

    Tenas Effendy. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.

MASA KOLONIAL


Selama berabad-abad, posisi Sumba yang dari segi politik relatif terisolasi serta minimnya sumber daya alam menyebabkan pulau ini nyaris tidak menarik minat dunia luar. Memang ada sejarah panjang tentang pertukaran ide-ide dan benda material dalam jumlah kecil di masa kerajaan Majapahit. Sumba pernah pula disebut sebagai tanah jajahan, tapi pada kenyataannya tidak ada pengaruh atau kendali berarti dari daerah lain yang berkuasa terhadap wilayah ini. Bima di Sumbawa serta Ende di Flores melakukan barter dan ada sedikit pengaruh budaya, tapi tidak ada kontrol politik terhadap bangsawan-bangsawan yang berkuasa di Sumba.
Selanjutnya datang bangsa Portugis yang ingin menancapkan kekuasaan dan menguasai perdagangan. Dalam penelitian yang dilakukan Joanna Mross di Wanokaka, yang ia tuangkan dalam makalah berjudul Settlements of The Cockcatoo: From Substansce to Style (1994-95), warga kampung Waikawolu Wawa dan Praigoli masih mengingat cerita-cerita tentang serangan Portugis terhadap Wanokaka pada tahun 1819. Mereka menyerbu sejumlah kampung, menghancurkan batu-batu kubur besar milik para bangsawan dan membawa para tawanan untuk dijual sebagai budak. Dengan pengalaman pertama yang begitu buruk tak heran jika bangsa Barat beserta agama dan perdagangannya umumnya ditolak oleh masyarakat Sumba. Pada awal abad ke 18, giliran VOC yang melakukan sejumlah perdagangan dengan penduduk Sumba melalui perantara orang – orang Ende dan pada akhirnya menancapkan kekuasaannya di Sumba bagian tenggara melalui para bangsawan feodal.
Jauh sebelum munculnya kedudukan Belanda di pulau Sumba, pada tahun 1756 pernah dilakukan kontrak dagang antara Komisaris Paravicini dengan 48 raja di daratan Timor, Alor, Flores, Solor, juga Sumba. J. A. Paravicini adalah Komisaris Tinggi VOC Belanda yang diutus Pemerintah Pusat di Batavia untuk menyelidiki kebenaran berita yang mengatakan bahwa Portugis dan Perancis hendak menyerang Timor dan pulau-pulau di sekitarnya, juga untuk memperbaharui perjanjian VOC dengan raja-raja di kawasan itu. Kontrak itu dilakukan pada tanggal 9 Juni di Kupang. Ada 8 orang raja Sumba yang ikut termuat dalam perjanjian tersebut, namun mereka tidak hadir secara fisik, perjanjian tertulis itu ditandatangani oleh Raja Mangili yang kebetulan berada di Kupang dan mengajukan diri untuk menandatangani kontak mengatasnamakan raja-raja lainnya. Akan tetapi raja Sumba yang lain kemudian menolak perjanjian itu karena mereka merasa bukan bawahan raja Mangili. Sebetulnya kontrak dagang tersebut bukan semata-mata menyangkut persetujuan dagang yang memberi monopoli kepada Belanda tapi sekaligus suatu pasal politik dimana para raja itu mengakui kedaulatan raja Belanda atas wilayah pemerintahannya. Dengan menandatangani kontrak tersebut berarti secara de jure wilayah dan pemerintahan mereka berada dibawah pemerintah kolonial, walaupun secara de facto raja-raja tersebut tetap berdaulat ke dalam, lebih-lebih di Sumba yang jauh dari jangkauan komunikasi (Umbu Pura Woha, 2008).
Meskipun tidak pernah menginjakkan kaki di Pulau Sumba, Paravicini memberikan gambaran yang sangat positif tentang pulau itu. Namun Pemerintah Pusat tidak percaya begitu saja sehingga mengirim seorang pejabat lain, yaitu Opperhoofd Beijnon, untuk menyelidiki keadaan di Sumba. Laporan Beijnon mengatakan Sumba tidak aman karena sering terjadi perang antar suku tapi ada potensi cendana, hamba bermutu baik, arang serta kapas. Setelah itu pemerintah pusat beberapa kali lagi mengirimkan utusannya ke pulau Sumba. Namun sesudah tahun 1775 tidak ada lagi berita tentang Sumba.
Baru pada tahun 1838, ketika sebuah kapal Inggris terdampar di Lamboya Pemerintah Belanda kembali menaruh perhatian terhadap Sumba. Muatan dan awak kapal yang terdampar itu dirampas, walau pada akhirnya para penumpang kapal yang menjadi tawanan berhasil melarikan diri ke Makasar dengan menggunakan perahu Ende. Bukti peninggalan kapal Inggris yang karam itu, berupa jangkar kapal yang dalam istilah lokal disebut watu kanaga tena hingga kini masih ada di Lamboya, tepatnya di kampung Malisu.
Setelah mendengar kejadian kapal karam itu, Pemerintah Hindia Belanda di Batavia yang khawatir kalau-kalau Inggris menduduki pulau itu, memerintahkan Residen D.J. Van den Dungen Gronovius pergi ke Pulau Sumba untuk melakukan penyelidikan serta menetapkan cara untuk menguasai pulau tersebut. sang Residen mengutus seorang keturunan Arab bernama Syarif Abdulrahman bin Abubakar Algadrie mewakili dirinya. Setelah bertandang ke Sumba, Syarif Abdulrahman bin Abubakar Algadrie melaporkan terbuka peluang besar untuk menguasai Pulau Sumba. Syarif Abdulrahman bin Abubakar Algadrie lantas diangkat sebagai wakil dagang pemerintah, ia menetap di Sumba dan berdagang hewan dengan modal dari Residen. Dari hasil perdagangan itu Syarif Abdurrahman bin Abubakar Algadrie mendapatkan keuntungan besar. Pada tahun 1843 ia mendirikan kota Waingapu dan berhasil mengembangkan kota itu menjadi salah satu pelabuhan dagang penting di luar pelabuhan Kupang (Oe.H.Kapita1976). Walau telah menempatkan wakil dagangnya di pulau Sumba, Pemerintah Belanda belum tertarik untuk menduduki pulau itu, baru pada tahun 1866 pemerintah menempatkan Samuel Roos sebagai Kontrolir di Waingapu. Ia adalah kontrolir pertama di pulau Sumba yang berhasil menjalin hubungan baik dengan penguasa dan penduduk setempat.
Di mata penguasa Belanda, Pulau Sumba dianggap sebagai pulau yang tidak aman karena banyak terjadi perang antar suku dan perdagangan budak. Oleh karena itu penguasa Belanda berupaya melakukan penertiban dan pengamanan. Pemerintah Belanda akhirnya mulai mengambil langkah-langkah untuk mengamankan kehidupan di pulau Sumba. Di tahun 1879 pada saat B. E. J. Roskott menjabat sebagai kontrolir di Sumba, diusulkan agar ditempatkan dua Post Houder (Pos Penjagaan) di Pulau Sumba. Di Mamboro untuk Sumba Barat dan di Melolo untuk Sumba Timur. Usul itu disetujui, lalu Ehrich ditempatkan di Mamboro dan F. Sick di Melolo. Dalam tahun itu juga pulau Sumba dibagi menjadi dua wilayah (onderafdeling) yaitu Onderafedeling Sumba Timur berpusat di Melolo dan Onderafedeling Sumba Barat berpusat di Mamboro. Menurut laporan Ehrich saat menjabat Post Houder Mamboro, wilayah (landschaap) Sumba Barat meliputi: Mamboro, Laura, Kodi, Wewewa, Tana Maringi, Lolina, Wanukaka, Lamboya, Anakalangu, Pondaku, Tana Righu dan Palamodu.
Kekuasaan Belanda pada paruh pertama abad ke 19 sebenarnya tidak bersifat interventif dan tidak menyukai operasi militer yang memakan biaya dan resiko adminis swapraja- swapraja ini dipimpin oleh seorang Kepala Swapraja yang lebih sering disebut raja. Kekuasaan mereka disahkan oleh Penguasa Belanda melalui penandatanganan kontrak korte verklaring, dimana masing-masing raja diberi tongkat kebesaran (tokko) serta secarik bendera sebagai tanda kekuasaan. Raja yang mendapat pengesahan dari pemerintah Belanda harus mengakui kedaulatan penguasa Belanda dan salah satu tugas pentingnya adalah menarik pajak.
Dalam buku Sejarah Perjuangan Benaka Hurka dan Tadu Moli Melawan Belanda di Lamboya (2010) Munandjar Widyatmika, dkk menulis bahwa di Sumba Barat kebijakan pajak diberlakukan mulai tahun 1910. Pajak ditarik melalui para kepala desa dalam bentuk pajak kepala dan pajak ternak. Ada pula pajak ekspor impor yang ditetapkan di setiap pelabuhan. Kebijakan pajak ditetapkan setelah raja yang bersangkutan menanda tangani kontrak korte verklaring S dan kontrak pajak. Kontrak pajak disebut verklaring betreffende belastingheffing. Walaupun tidak semua raja menandatangani kontrak pajak namun dengan adanya kontrak korte verklaring maka setiap kerajaan dianggap mempunyai kewajiban membayar pajak. Sebagai imbalannya setiap raja dan wakil raja diberi gaji oleh Belanda. Kontrak pemberlakuan pajak menyebabkan rakyat menderita. setiap penduduk dewasa wajib membayar uang pajak, dan karena pada waktu itu uang tunai belum beredar di kalangan masyarakat pedesaan maka pajak dipungut dalam bentuk barang seperti beras, kerbau, kambing, domba, babi, ayam dan telur. Baru beberapa tahun kemudian digunakan uang logam. Beban pajak yang berat pada akhirnya memicu berbagai gerakan perlawanan rakyat terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Di Sumba Barat gerakan perlawanan terjadi sebanyak dua kali yakni, perang Malisu pada tahun 1911 dan perang Tadu Moli tahun 1914. Keduanya berlokasi di Lamboya, dipelopori oleh beberapa Suasana saat penarikan pajak oleh Pemerintah Belanda trasi. Politik Pasifikasi kala itu lebih ditekankan untuk menegakkan ketertiban melawan anarkhi dan memperkuat wibawa raja-raja setempat. Menciptakan orde, rust en welvaart (tertib, aman dan sejahtera) tanpa menyingkirkan kepemimpinan raja setempat untuk mempermudah pembentukan pemerintahan sendiri (zelf bestuur) yang direstui Belanda. Namun pada tahun 1890-an muncul semangat ofensif baru untuk menegakkan citra kedaulatan Pemerintah Hindia Belanda. Gubernur Jendral Van Heuts menyebut semangat baru ini dengan istilah membangunkan wilayah Timur Besar dari tidur lelap Raya (de Moor, 1989). Pada tahun 1904 van Heutz mengeluarkan kebijakan Buitengewesten. Dalam kebijakan ini Pemerintah Belanda menaruh perhatian terhadap wilayah-wilayah di luar Jawa terutama yang belum ditaklukkan oleh Belanda. Alasannya berkesan etis tapi tujuan sesungguhnya adalah untuk membenarkan ofensif militer di wilayah pedalaman. Dengan dalih menegakkan kewibawaan, memberantas perbudakan dan menghentikan perang antar suku, pemerintah Belanda melakukan berbagai upaya mempercepat penaklukkan di wilayah-wilayah luar Jawa termasuk wilayah Keresidenan Timor dan Daerah Taklukannya.
Menindaklanjuti kebijakan Buitengewesten di keresidenan Timor tersebut, Pemerintah Belanda mulai melakukan penaklukan seluruh Pulau Sumba. Kebijakan pengamanan Pemerintahan kolonial ini dipimpinan Letnan I Rijnders sebagai Gezaghebber Sipil dan Militer Pulau Sumba yang berkedudukan di Waingapu. Pengamanan Pulau Sumba berlangsung selama enam tahun yakni dari tahun 1906-1912. Dalam upaya memperluas wilayah kekuasaan di Sumba Barat, Pemerintah Belanda menempatkan Post Houder di dua tempat. Satu di Mamboru dibawah pimpin Sersan Abbenk dan satu lagi di Waikabubak dibawah pimpin Letnan de Neeve.
Selanjutnya dilakukan penataan pemerintahaan dengan menggabung kerajaankerajaan yang ada mejadi: Kerajaan Loura, Kerajaan mamboro, Kerajaan Kodi dan Kerajaan Wewewa. Pemerintahan Belanda di pulau Sumba kemudian diserahkan pada A.J.L. Couvreur sebagai Pemerintah Sipil dengan status sebagai Kontrolir, kemudian diangkat sebagai Asisten residen Sumba. Pada masa pemerintahannya, pulau Sumba ditetapkan sebagai satu afdeeling dalam Keresidenan Timor dan Daerah Taklukannya, dan dibagi menjadi Onder Afdeeling Sumba Timur dengan ibu kota Melolo, Onder Afdeeling Sumba Tengah dengan ibu kota Waingapu, Onder Afdeeling Sumba Barat Utara dengan ibu kota Karuni, dan Onder Afdeeling Sumba Barat Selatan dengan ibu kota Waikabubak. Pada tahun 1922 Onder Afdeeling Sumba Timur dan Onder Afdeeling Sumba Tengah digabung dalam Onder Afdeeling Sumba Timur dengan ibu kota Waingapu, sedangkan Onder Afdeeling Sumba Barat Utara dan Onder Afdeeling Sumba Barat Selatan digabung menjadi Onder Afdeeling Sumba Barat dengan ibu kota Waikabubak (Widyatmika: 2010).
Pada masa pemerintahan Belanda, pulau Sumba terbagi kedalam 16 kerajaan dengan pemerintahan yang berbentuk swapraja. Tujuh diantaranya terletak di Sumba Timur dan sembilan lainnya di Sumba Barat, yaitu: Kerajaan atau Swapraja Kodi, Laura, Wewewa, Laboya, Anakalang, Wanokaka, Memboru, Loli, dan Umbu Ratu Nggay.
Gambar : Tokoh tradisional antara lain Benaka Hurka dan kawan-kawan di Malisu serta Tadu Moli dan kawan-kawan di Sodan.
Untuk mendapatkan kepastian pembayaran pajak, pemerintah Belanda memerlukan kepastian jumlah penduduk dewasa dan kepastian penduduk suatu desa. Maka Belanda pun mulai melakukan sensus penduduk di beberapa tempat, serta resetlement penduduk dari pegunungan ke lokasi di bawahnya atau di dekat jalan raya untuk memelihara perbaikan jalan. Pembangunan jalan kala itu berorientasi pada kepentingan militer dan pertahanan sehingga diberlakukan sistem kerja rodi untuk membangun jalan yang disebut heredientens. Dalam satu tahun seorang lelaki dewasa dikenakan kerja rodi sekitar 35 hari. Sering kali lokasi kerja rodi berjauhan dengan tempat tinggal mereka sehingga dianggap sangat merugikan dan menyengsarakan penduduk. Sedangkan sensus penduduk berlaku sangat variatif. Pada tahun 1863 telah ada sensus penduduk di pulau Rote. Namun secara umum sensus penduduk mulai diperkenalkan di keresidenan Timor pada tahun 1930.
Melalui Sumba Kontrak, pemerintah Belanda juga memperkenalkan sapi ongole di Sumba yang diberikan secara bergulir dalam bentuk sistem kopel. Biasanya satu paket terdiri dari 8 betina dan 1 ekor pejantan. Jika di lokasi yang bersangkutan sudah berkembang, maka ternak tersebut didistribusikan lagi ke tempat lain dengan sistem yang sama. Biasanya distribusi dilakukan di lokasi para bangsawan yang memiliki padang penggembalaan. Kebijakan perbaikan kesejahteraan masyarakat ini seolah-olah Belanda berbaik hati melaksanakan kepentingan rakyat. Tetapi sebenarnya menyangkut kepentingan penguasa Belanda sendiri. Sebab kalau pendapatan para petani berkembang maka upaya membayar pajak untuk kepentingan Belanda diharapkan berjalan lebih lancar karena penduduk memiliki uang untuk membayar pajak tersebut. Untuk meningkatkan kesehatan penduduk nantinya juga dilakukan kegiatan imunisasi cacar bagi penduduk. Kegiatan imunisasi cacar di Timor diperkenalkan oleh residen J.A.Hazaart.

Pada tahun 1913 wilayah Sumba Barat dibagi dalam dua bagian yakni: Sumba Barat Laut meliputi Loura, Mamboro, Kodi, Mba Ngedo, dan Wewewa dengan ibu kota di Karuni. Dan Sumba Selatan Daya meliputi Lolina, Wanukaka, Lamboya, Anakalang dan Lawonda dengan ibu kota di Waikabubak (Kapita, 1976).

WAINGAPU NUN JAUH DI SANA … (SUMBA TIMUR)


Pulau Sumba, anda tahu dimana? Sebuah pulau di jajaran kepulauan di Nusa Tenggara Timur, nun jauh disana. Penulis ingat karena dulu waktu di Sekolah Dasar suka pelajaran ilmu bumi, dan selalu ingin melihat pulau-pulau itu langsung. Baru kali ini kesampaian. Sebelum dikunjungi bangsa Eropa pada tahun 1522, Sumba dikuasai oleh Kerajaan Majapahit Sejak 1866, pulau ini dikuasai oleh Belanda dan selanjutnya menjadi bagian Indonesia.
Pulau Sumba luasnya 10.710 km², dan titik tertingginya Gunung Wanggameti 1.225 m. Sumba berbatasan dengan Pulau Sumbawa di sebelah barat laut, Pulau Flores di timur laut, Pulau Timor di timur, dan Benua Australia di selatan. Sumba memiliki 4 kabupaten : Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah dan Sumba Timur. Kota terbesarnya adalah WaIingapu ibukota Sumba Timur.
Wilayah Sumba Timur memiliki motto : “Matawai Amahu Pada Jara Hammu” artinya kurang lebih Mata Air Di Padang Yang Bagus Untuk Peternakan Kuda, sedangkan Sumba Barat “Pada Eweta Manda Elu”, artinya “ Padang Rumput Yang Hijau”.
Kunjungan penulis kali ini sebetulnya adalah untuk melihat stasiun repeater radar di KM 16 Waingapu. Kami harus datang melalui Kupang, karena penerbangan langsung dari Ngurah Rai Bali ke Waingapu hanya beberapa kali dalam seminggu.
Pesawat Boeing B737 Batavia Air yang kami tumpangi mendarat mulus dari runway 15. Selamat datang di Bandara Mau Hau eh sekarang menjadi Umbu Mehang Kunda. Kebetulan Kepala Bandara Udara Bpk. Heronimus Obe Topan, bersama kami satu pesawat.
Setelah istirahat sejenak, kami naik ke menara pengawas ingin melihat bandara ini dari atas Tower. Runway bandara 1850 X 30 M ini, menjadi saran vital yang menghubungkan Sumba dengan wilayah sekelilingnya. Bukit Padadita terlihat memanjang memotong jalur landasan di ujung runway 15. Bukit Padadita ini tingginya 50 m, dan terletak 350 m dari ujung landasan. Jadi, anda dapat membayangkan bahwa pilot harus segera menurunkan ketinggian pesawat, begitu melewati bukit ini. Slope-nya 3% jadi cukup riskan sebetulnya. Pantas tadi waktu mendarat pesawat terasa agak drop, turun dengan tiba-tiba.

STASIUN REPEATER RADAR
Kemudian kami langsung menuju ke stasiun repeater radar, diantar oleh Purwadi teknisi radar yang menjaga dan mengoperasikannya. Stasiun ini berfungsi sangat vital untuk memperkuat data dan menggabungkan (interface) data radar pengaturan lalu lintas udara di wilayah Bali, Makassar dan Nusa Tenggara Timur. Jadi, jika repeater di sini tidak ada, maka ada blank spot di wilayah NTT, dan ini sangat mempengaruhi pelayanan lalu lintas udara di wilayah timur-selatan Indonesia.
Stasiun repeater ini dioperasikan sejak tahun 1997 dan beroperasi dengan baik sampai sekarang. Selama 13 tahun radar head ini terus berputar tanpa berhenti. Antena radar ini hanya sempat berhenti selama 3 hari tahun 1998, pada waktu pemeliharaan. Lokasi antenna radar ini di KM 16 dari Waingapu ke arah Makaminggit, terletak diatas bukit di tepi tikungan jalan. Sekelilingnya bukit-bukit, sebuah antenna BTS Telkomsel di sebelah timurnya.
Penulis naik ke atas antena radar dan di kejauhan tampak teluk Waingapu. Dari atas ketinggian ini, bukit-bukit yang gersang tampak mulai menghijau, beberapa ekor kuda tampak merumput diatasnya. Pantaslah kalau kuda Sandalwood sangat terkenal dikembang-biakkan disini, alamnya memang sangat mendukung. Motto Sumba Timur : Matawai Amahu Pada Njara Hamu yang artinya : Mata Air Di Padang Rumput Savana Untuk Kuda Yang Bagus, menjadi sangat relevan dan nyata.
Purwadi bercerita bahwa lokasi radar ini dihuni oleh mahluk halus, dia meminta kami berdoa sebelum naik keatas radar head. Waktu itu tahun 1998, ada pekerjaan pemeliharaan pengecatan radar head ini. Ketika sedang mengecat, seorang pekerja – Wito, merasa bahwa burungnya (maaf) kesemutan. Dan ketika dibuka, burungnya memang benar-benar hilang! Untunglah setelah 6 jam kemudian burungnya bisa kembali lagi.
Tanpa sadar penulis meraba celana, dan bersyukur untunglah masih ada! Kalau tidak, bisa bahaya nih!. Dia juga bercerita, Pak Suditha dari Bali kalau datang ke sini selalu membawa ayam panggang dan ditaruh di sebuah pojok. Ketika dia kembali lagi untuk sekedar melihatnya; ayam panggang itu sudah lenyap. Anehnya, kalau yang membawa ayam Purwadi sendiri, nggak pernah hilang. Tetap utuh. Nah lu. Beda rasanya barangkali ya?
Terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada Purwadi Teknisi Elektronika RTR 32, lulusan Curug tahun 1994. Di tempat terpencil ini, dia bersama beberapa teknisi menjaga dan memelihara peralatan ini dengan baik dan tetap beroperasi setiap hari non-stop, selama 13 tahun! Tanpa mereka sudah pasti pelayanan navigasi penerbangan di Bali dan wilayah Timur Indonesia, kurang optimal.Penulis mengusulkan agar lokasi ini diberi nama saja. Jangan hanya KM 16, tetapi diberi nama sesuai lokasinya. Awalnya, karena disini sulit air penulis sarankan namanya Wai Harui (air sulit). Purwadi kemudian mencoba mencari nasehat dari para tetua adat. Dan karena lokasinya di sebuah ketinggian dengan pandangan yang luas, maka namanya diusulkan : Ngadu Mbulu (pandangan luas). Penulis meyakinkan Purwadi agar segera mengubah nama KM 16 menjadi Ngadu Mbulu. Mudah-mudahan Purwadi segera meresmikan nama ini.
Sore hari kami meninggalkan lokasi ini. Dan menginap di hotel Evlin.
Besok paginya jam 8 pagi Umbu Putra sudah menjemput kami di hotel. Kami akan meneruskan perjalanan ke Tambolaka Sumba Barat Daya. Di sebuah pertigaan di kilometer nol Waingapu, kami berhenti sebentar. Ambil beberapa foto di pertigaan ini.
Dan di dekat peritgaan ini ada ibu-ibu menjual nasi kuning, semacam Nasi Jenggo di Bali. Iseng iseng penulis membeli 3 bungkus, sekedar ingin membandingkan rasanya dengan Nasi Jenggo Bali. Iseng yang ternyata menjadi sangat bermanfaat.



DESA ADAT PRAILIU
Umbu Putra mengantarkan kami ke desa adat Prealiu. Untuk melihat adat istiadat dan kehidupan suku Sumba. Desa Praeliu, kami meminta ijin untuk masuk ke rumah adat. Seorang kepala keluarga menemui kami dan menjelaskan tentang rumah adatnya. Bersyukurlah kami datang bersama dengan Umbu Putra, rekan kami yang berasalah dari Waikabubak. Dia punya teman dan kerabat di desa ini, sehingga kami dengan mudah masuk ke rumah mereka dan mendapat perlakuan yang bersahabat.

Umbu Putra
Masyarakat Sumba kuno menjalankan kehidupannya dengan sebuah keyakinan yang dikenal sebagai Marapu. Mereka menguburkan jasad nenek moyangnya yang sangat dihormati dengan membuat batu kubur di depan rumah mereka. Batu kubur ini sering kali lebih bagus dan terawat dibandingkan dengan rumah mereka sendiri. Ini salah satu bentuk penghormatan kepada nenek moyangnya. Selain itu, batu kubur barangkali menjadi lambang status. Semakin bagus batu kubur seseorang, menunjukkan gengsi dan status seseorang di masyarakatnya.
Rumah adat Sumba diberi nama “umma” Dan setiap uma memiliki nama berdasarkan status sosial penghuninya. Untuk rumah orang kebanyakan dinamakan “umma marapu manu” untuk pemimpin pemukiman “umma rato”, ketua adata “ummadelo” dan bangunan untu bermusyawarah “uma wawine”
Umma merupakan bangunan yang memiliki atap tinggi dibagian atas, dan bagian bawahnya dibuat landai. Mirip-mirip dengan rumah joglo di Jawa. Atap yang menjulur jauh ke bawah membuat dinding Uma hampir tidak kelihatan. Bubungan atap digunakan untuk menyimpan bibit tanaman dan bahan makanan dinamakan “uma dalo”, dibawahnya tempat menyimpan makanan sehari-hari “pedalolo”. Di bawahnya lagi adalah ruang tidur “katendeng”.
Bagian terbawah dari uma adalah “katonga tana” yang berfungsi sebagai balai tempat pijakan kaki sebelum memasuki rumah. Bagian bawah bangunan berbentuk panggung dengan teras yang tidak berpagar. Dindingnya berupa jajaran kayu yang bertumpuk-tumpuk diletakkan horizontal.
Jadi rumah adat Sumba terbagi menjadi 3 bagian : Toko Umma (bagian atap) berbentuk menara yang tinggi untuk menyimpan benda-benada pusaka Marapu dan menyiman hasil panen. Bei Umma (ruang hunian) ruangan ini tidak menyentuh tanah, berlantai bambu dengan beranda yang cukup luas. Kali Kabunga (kolong rumah) digunakan sebagai kandang ternak.
Sebentar kemudian kami sudah selesai, dan keluar rumah adat ini. Dan beberapa ibu-ibu segera datang dan menggelar kain-kain khas Sumba yang mereka tenun sendiri menawarkan untuk dibeli. Motifnya sangat khas Sumba dengan warna-warna yang terang dan menarik. kami pun membeli beberapa lembar sekedar untuk kenang-kenangan. Mereka walaupun terkesan diam dan dingin, tetapi cukup ramah dan tidak memaksa. Tidak seperti kebanyakn di lokasi wisata. Jika kita tidak membeli kain yang mereka tawarkan pun tidak apa-apa. Hanya saja cukup sungkan juga ketika ada yang seorang bapak yang menawarkan kain berukuran besar, sampai menggantungkannya harus pakai galah. Harganya ? Rp. 3 juta. Mahal? Barangkali kalau memperhatikan prosesnya, yang memakan waktu berbulan-bulan, enggak juga.

MENUJU TAMBOLAKA
Kami meneruskan perjalanan. Endo Prabowo dan Purwadi menjemput kami, karena Umbu Putra ada urusan sedikit, dia akan menyusul kemudian. Jam 9 pagi pagi yang cerah, mobil diesel Everest membawa kami ber 5 dengan sopir, meninggalkan Waingapu menuju Tambolaka.
Kita tahu, Tambolaka menjadi terkenal, karena peristiwa mendaratnya pesawat Adam Air yang salah navigasi. Kejadian ini menghebohkan dunia penerbangan internasional. Kesalahan pilot dan ATC yang kurang cermat memantau rute penerbangan Adam Air, membuat kejadian ini menjadi stigma bagi dunia penerbangan Indonesia. Tambolaka berada di Sumba Barata Daya, kira-kira 175 km dari sini.
Menjelang ke luar Waingapu kami melewati sebuah jalan yang diberi nama Jenderal Soeharto. Hebat juga. Barangkali Waingapu adalah satu satunya daerah yang berani memberi nama jalan dengan nama ini. Kita tahu, Bapak Pembangunan ini pada akhir kekuasaannya banyak di cerca dan dikucilkan. Waingapu ternyata menghargai beliau dan cukup berani memberi nama jalan protokolnya dengan nama : Jenderal Soeharto. Gedung DPRD Waingapu yang megah dan terletak di pebukitan terletak di jalan ini.
Mobil Everest kami bergerak dan meninggalkan Waingapu. Pintu gerbang kota Waingapu dijaga dengan megah oleh dua buah patung penunggang kuda mengawal gerbang ini di kanan-kiri jalan dua jalur yang beraspal mulus. Dibawahnya beberapa pasang muda-mudi asyik memadu kasih. Jalan-jalan di Waingapu mulus karena dibuat di atas karang yang keras, karena base nya kuat dan keras jarang terjadi kerusakan.
Di sebuah belokan, ditepi sebuah tebing yang curam pemandangannya begitu menarik sehingga membuat kami berhenti dan mengambil beberapa buah foto. Dari atas ketinggian ini, di ujung pandangan, garis pantai melengkung membentuk teluk, dan disitulah bandara Waingapu terletak. Namanya sekarang Bandara Umbu Mehang Kunda, sayangnya nama ini belum masuk dalam catatan organisasi penerbangan sipil internasional ICAO.
Di kilometer 13 ketika mobil kami berada di bukit karang yang di belah untuk membuat jalan. Tiba-tiba indikator panas mobil naik, dan sopir kami menghentikan mobil dan parkir dipinggir jalan. Wah bagaimana ini ?
Tenang saja, berhenti sebentar. Saatnya sarapan lagi. Dan kami pun membuka nasi bungkus yang kami beli tadi. Sambil menunggu mesin dingin kami duduk di pinggir jalan, di bawah sinar matahari pagi, kami menikmati nasi kuning khas Waingapu. Asyik. Dan Purwadi pun sibuk motret kami yang sedang makan.
Setelah selesai, ajaib mesin sudah dingin padahal tidak diapa-apakan. Kemudian ketika mobil kembali di start semuanya berjalan dengan normal. Mobil pun berjalan lancar diatas jalan beraspal hotmix yang mulus. Kami membelok melewati KM 16 - Ngadu Mbulu - stasiun repeater radar yang kemarin sore kami lihat.
Di kejauhan beberapa kuda tampak merumput di bukit-bukit yang mulai menghijau. Kuda Sandalwood yang terkenal itu. Kuda-kuda yang dibiarkan liar. Penulis bertanya bagaimana caranya mengembalikan kuda-kuda itu ke dalam kandangnya? Barangkali itulah mengapa keahlian menunggang kuda, menjadi sebuah pertunjukkan menarik dalam tradisi Pasola. Adu ketangkasan kuda dengan melempar lembing.
Bukit bukit hijau kekuningan yang hanya ditumbuhi rumput itu seakan menjelaskan makna dari “Matawai Amahu Pada Jara Hammu” - Mata Air Di Padang Yang Baik Untuk Kuda …

Selamat tinggal Waingapu …

Salinan Dari Internet

SEJARAH ORANG SUMBA

A.   Sekilas Asal-Usul Orang Sumba
Berdasarkan cerita-cerita dari generasi ke generasi menyatakan bahwa orang sumba berasal dari Malaka Tana Bara (semenanjung Malaka)  berlayar ke Sumba melalui Hapa riu-Ndua Riu, Hapa Njawa-Ndua Njawa, Rukuhu-Mbali, Ndima –Makaharu, Endi-Ambarai, Enda-Ndau, Haba—Rai Njua dan terakhir mendarat di Haharu Malai Kataka Lindi Watu. Hal ini juga sejalan dengan asal usul bangsa indonesia pada umumnya.
Menurut Wohangara dan Ratoebandjoe dalam Woha (2008:40) menyatakan bahwa: pendaratan para leluhur itu diatur strategi seakan-akan mau melakukan pengepungan terhadap tana Humba sebagai berikut:
a)   Rombongan I mendarat di Haharu Malai Kataka Linndi Watu.
b)     Rombongan II mendarat di La Panda Wai Mananga Bokulu.
c)  Rombongan III mendarat di Wula Waijilu-Hongga Hillimata.
d)     Rombongan IV mendarat di Mbajiku Padua Kambata Kundurawa.

B.     Sratifikasi Sosial Di Sumba
Dalam masyarakat sumba ada satu hal yang yang menarik yaitu adanya klasifikasi sosial secara vertikal yang masih bertahan sampai sekarang. Sistem ini dikenal dengan adanya maramba (tuan) dan ata (hamba). Meskipiun zaman semakin modern  sistem ini masih sangat sulit dirubah karena sudah turun temurun. Berdasarkan cerita yang didapatkan bahwa adanya hamba (ata) sudah merupakan perjanjian dan sumpah adat antar suku dan antar kampung.
1.      Lahirnya Maramba Dan Ata
Menurut penuturan yang diturunkan dari generasi ke generasi orang sumba mengakui bahwa leluhur mereka adalah Umbu Walu Mandoku dan Rambu Humba. Dari pasangan inlah yang melahirkan suku-suku yang menetap di Sumba sekarang ini.
Dari cerita tersebut dapat kita ketahui bahwa pada awalnya dalam masyarakat sumba tidak dikenal adanya maramba dan ata. Dengan waktu yang terus berjalan penduduk makin banyak. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka harus menyebar mencari tempat yang baru lalu membentuk kampung yang baru pula. Penyebaran inilah yang menyebabkan sering terjadi pertentangan antara kampung dalam memperebutkan lahan atau wilayah yang ingin dikuasai. Akibatnya terjadi perang antar kampung. Perlu dingat bahwa perang antar kampung bukan perang antar suku. Karena dalam satu kampung tidak hanya ada satu suku tetapi lebih dari satu suku.
Pihak yang kalah dalam perang ditawan dan dijadikan hamba (ata) bagi pihak yang menang. Dari sinilah muncul hamba dan klaim sebagai maramba (tuan) dari pihak yang menang. Tidak adanya perlawanan dari ata karena telah disumpah adat. Sekalipun ada yang melawan akan dibunuh baik secara langsung dengan nimbu (tombak) atau kabela (parang) atau secara tidak langsung dengan sebuah ritual (hamaya puhi).
Selain penjelasan di atas ada juga versi lain yang menyatakan lahirnya maramba dan ata di sumba. Apapun versi yang kita dapatkan masih membutuhkan penelitian yang lebih lanjut untuk membuktikan lahirnya maramba dan ata.
2.      Maramba
Maramba (tuan) adalah orang yang memiliki hamba (ata). Maramba mempunya hak prerogatif sehingga apapun yang diperintahkan harus dilakukan oleh ata (hamba).
Dalam masyarakat sumba dikenal sebutan Umbu Nai untuk laki-laki dan Rambu Nai untuk perempuan dan ditambah nama hamba. Misalnya Umbu Nai Kalikit artinya hambanya bernama Kalikit. Sebutan ini berlaku secara umum khususnya di Sumba Timur. Tetapi maramba yang memiliki hamba banyak biasanya memakai sebutan Tamu Umbu tanpa diikuti nama hamba dan umbu saja untuk yang tidak meliliki hamba.
Maramba yang tidak memiliki hamba disebabkan karena hamba adalah milik bersama dengan saudaranya atau tidak mendapatkan jatah hamba dari orang tua (jumlah anak maramba lebih banyak dibandingkan dengan jumlah anak ata dan biasanya anak terakhir yang tidak mendapatkan jatah kalau hamba kekurangan) atau hamba dari orang tuanya meninggal tanpa mempunyai anak. Akan tetapi, seorang maramba dapat membeli hamba dari kampung lainnya untuk mendapatkan sebutan Umbu Nai.
3.      Ata (Hamba)
Sistem hamba ini sudah berjalan turun temurun. Artinya jika orang tua mereka adalah hamba dari satu keluarga maramba maka anak-anak atau keturunannya akan tetap menjadi hamba bagi tuan mereka. Para ata sudah terikat dengan adat istiadat dan turun temurun  sehingga tidak memiliki ruang gerak untuk menjadi maramba.
            Perlakuan maramba terhadap ata berbeda-beda. Ada yang memperlakukan hamba dengan baik, ada juga yang memperlakukan dengan semena-mena. Pengabdian para hamba tidak pernah mengenal usia. Mereka bekerja untuk maramba setiap hari sejak masih kecil sampai meninggal. Bahkan dulu ketika tuanya meninggal hambanya pun dikubur bersama baik masih hidup ataupun sudah meninggal. Seiring dengan perkembangan hal itu tidak lagi terjadi.
            Tugas utama hamba (ata) adalah memelihara ternak, mengolah kebun, menyiapkan makanan dan sebagai pembawa kalumbut (tempat sirih pinang untuk laki-laki) atau mbola happa (tempat sirih pinang untuk perempuan). Juga melaksanakan perintah lain dri tuannya. Hasil kerja hamba juga dapat meningkatkan status sosial tuanya. Misalnya, semakin banyak hewan yang dipelihara maka derajat sosial tuanya akan semakin tinggi.
4.      Hamba (Ata) Dalam Sistem Perkawinan
Ata (hamba) juga berperan dalam perkawinan orang sumba. Peran hamba sering dikenal dengan istilah ata ngandi (hamba yang dibawa). Ata ngandi adalah seorang perempuan yang ditunjuk oleh maramba untuk menjadi hamba khusus bagi anak perempuanya.  Ata ngandi (hamba yang dibawa) merupakan hamba yang dibawa oleh seorang wanita kalangan maramba (Rambu Nai) ketika dipinang oleh seorang laki-laki dari derajat maramba yang sama. Adanya atau tidak adanya ata ngandi (hamba yang dibawa) menunjukkan status sosial dari istri seorang maramba.
Dari klasifikasi secara vertikal tersebut diatas bertentangan dengan sumber-sumber yang lain yang mengklasifikasikan orang sumba.  Salah satunya adalah http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sumba yang memuat : Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba), orang merdeka pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku, walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya.
Klasifikasi tersebut sudah sedikit menggeser pengertian maramba yang sesungguhnya yaitu yang memiliki hamba bukan yang menguasai suatu  kampung atau beberapa kampung. Sebelum pejajahan datang suatu kampung tidak ada pemerintahan tunggal tetapi pemerintah secara bersama-sama oleh maramba yang ada di kampung itu. Juga diperjelas oleh  Woha (2008:47) : ternyata pemerintahan Hindia Belanda merubah sistem pemerintahan tradisional ini menjadi sistem pemerintahan ala Eropa yaitu sistem kerajaan, sehingga akhirnya dalam kerajaan itu kekuasaan hanya berada di satu tangan yaitu raja.
Klasifikasi itu juga bisa dibenarkan karena merupakan peninggalan penjajah Belanda. Tetapi dalam pelaksanaan sistem itu tidak semua maramba menerimanya.

C.     Sistem Garis Keturunan Yang Di Anut Suku Sumba
Pada orang Sumba nama seorang anak tidak mangikuti nama (fam) dari ayah maupun ibu. Nama secara utuh diambil dari salah satu nama dari keluarga dari ayah atau ibu baik yaitu  kakek atau nenek kandung maupun dari yang lainnya. Sehingga orang Sumba mengenal istilah Boku Tamu atau Apu Tamu. Nama laki-laki berdasarkan Boku Tamu dan perempuan berdasarkan Apu Tamu. Tidak bisa nama anak laki dari Apu Tamu atau sebaliknya. Nama bisa berasal dari suku lain yang masih ada hubungan keluarga. Sehingga nama tidak berpengaruh terhadap suku. Hal senada juga dikatakan oleh Woha (2008:3) bahwa : Di Sumba nama orang sama sekali bukan identitas kabihu.
Dalam perkembangannya sekarang sudah bisa mengambil nama depan atau belakang dari ayah sebagai fam dari anak. Tetapi sistem pemberian nama seperti diatas tidak sepenuhnya hilang. Anak bisa memiliki dua nama. Nama dengan fam ayah digunakan sebagai nama formal atau nama yang digunakan saat pembaptisan dan penulisan ijazah. Sedangkan nama lahir dari boku tamu (laki-laki) atau apu tamu (perempuan) tetap digunakan sebagai nama panggilan untuk dirumah.
Landasan dikatan bahwa suku sumba menganut patrilineal atau garis keturunan ayah  adalah ketika seorang anak hendak diketahui asal usulnya yang ditanyakan adalah siapa nama ayah atau kakeknya bukan siapa nama ibu atau neneknya.




DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2001. Budaya Sumba http://waingapoe.wordpress,com/2011/01/12/budaya-sumba/
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sumba

Woha,U.P.2008. Sejarah Pemerintahan di Pulau Sumba. Undana press. Kupang.

UMBU NDILU DJARRIKU


Di pulau sumba dahulu kala ada kisah tentang sepasang suami istri . Sang suami bernama Umbu Ndilu Djara dan istrinya bernama Rambu Lingga Wandallu . Pasangan suami istri ini dikaruniai dua orang putri yang masing-masing diberi nama Rambu Yaku Danga untuk yang sulung dan Rambu Kahi Leba untuk si bungsu.
Namun malang tak dapat di tolak , untung tak dapat di raih. Umbu Ndilu Djara meninggal semasa kedua putrinya masih kecil.
Dan setelah kedua putri itu mekar menjadi dewasa sang ibu dipanggil kembali oleh Penciptanya.Maka tinggallah kedua putri itu sendirian. Mereka terpaksa harus membanting tulang setiap hari demi kehidupan mereka sendiri.
Konon pada suatu waktu, kelaparan menimpa pulau Sumba karena musim panas yang berkepanjangan, persediaan makanan Rambu Yakku Danga dan Rambu Kahi Leba telah habis . Maka setiap hari Rambu Yaku Ndanga turun ke laut mencari tanaman wuandia sebagai bahan makanan.
Wuandia adalah sejenis tumbuhan menjalar seperti ubi jalar. Wuandia adalah tumbuhan beracun yang dapat dimakan apabila diolah dengan baik dan direbus berulang-ulang.
Setiap hari Rambu Yaku Ndanga pergi mencari wuandia, sedangkan Rambu Kahi Leba tinggal dirumah untuk mengolah dan memasak wuandia. Suatu hari, sementara Rambu Kahi Leba memasak wundia datanglah seorang raksasa. Tentu saja Rambu Kahi Leba sangat takut dan lari bersembunyi ke kamar kemudian raksasa itu pergi ke dapur dan memakan wuandia itu dengan menelan periuknya sekaligus kejadian ini terulang hampir setiap hari. Namun setiap kali Rambu Kahi Lebba melaporkan kejadian itu kepada kakaknya, ia selalu menyambutnya dengan amarah yang hebat karena tidak percaya. Sampai pada suatu hari kejadian itu terulang lagi,maka sore harinya ketika Rambu Yaku Danga kembali, adiknya memberikan laporan yang sama. Mendengar laporan itu, Rambu Yaku Danga sangat marah dan memukul adiknya sampai babak belur.
Sejak peristiwa pemukulan itu, Rambu Kahi Leba memutuskan untuk meninggalkan rumahnya itu. Ia hendak menemui ayah dan ibunya yang berada di alam gaib, atau di ”dunia bawah”, menurut kepercayaan orang Sumba.
Dari rumah, Rambu Kahi Leba langsung menuju kubur kedua orang tuanya. Ia kemudian bersemedi di atas kubur ibunya. Dia juga berdoa dan mengadukan nasibnya yang malang dan dengan berpantung pada pantunnya yang terkahir, kubur ibunya terbuka. Lalu ibunya segera bertanya, “mengapa engkau kemari” ?? Rambu Kahi Leba hanya dapat menangis sambil mengadu semua perlakuan kakaknya kepada dirinya. Maka ayahnya pun ikut menangis.
 Setelah bercakap-cakap sebentar, ibunya menyuruh Rambu Kahi Leba pergi mandi di sungai terdekat.
Sebelum pergi, ibunya berpesan agar Rambu Kahi Leba memetik sebuah jeruk asam ditepi sungai itu. Ia harus memilih buah jeruk yang tidak terlalu tua, tapi juga jangan terlalu muda, jeruk itu supaya dibelah menjadi dua. Belahan atas disimpan di dalam sarung, sedangkan belahan bawah dipakai untuk membersihkan badan. Menurut pesan itu Rambu Kahi Leba pergi. Setelah jeruk itu dipetik ia kembali menunjukkan jeruk itu kepada ibunya. Ibunya mengangukkan kepala tanda jeruk itu sangat baik.
Maka Rambu Kahi Leba turun mandi ke sungai. Setelah mandi, pada saat ia hendak menggapai sarungnya untuk berganti pakaian, ia sangat terkejut. Sebab belahan jeruk tadi telah berubah menjadi seorang pemuda tampan. Dengan ketakutan Rambu Kahi Leba berlari menyampaikan kejadian tersebut kepada ibunya.
Tetapi  dengan tenang  ibunya menjawab, “jangan takut, sebab karena pemuda itulah engkau tiba disini ! pemuda itu bernama Umbu Ndilu Djarriku ! ”Terimalah dia sebagai suamimu !”
Rambu Kahi Leba hanya tercengang bercampur gembira. Lalu ibunya berkata lagi, “panggillah Umbu Ndilu Jariku kemari supaya kami memamah siri bersama !”
Tanpa membuang waktu ,Rambu Kahi Leba pergi memanggil Umbu Ndilu Djarriku untuk menemui ibunya. Segera setelah selesai memamah sirih ,ibu Rambu Kahi Leba berseru, ’’kalian berdua harus segera kembali ke’bumi atas’ atau dunia ini dalam kepercayaan orang sumba karena sekarang belum waktunya kalian berdua menetap disini !”
Mendengar seruan itu, Rambu Kahi Leba dan Umbu Ndilu Djarriku segera bergegas dan kembali ke rumah . Mereka membawa banyak harta kekayaan yang diberikan oleh orang tua Rambu Kahi Leba. Setibanya di rumah,Rambu Yaku Danga menyambut keduanya dengan gembira. Adiknya menceritakan pengalamannya kepada kakaknya. Rambu Yaku Danga memohon hal yang sama.
Beberapa hari kemudian Rambu Yaku Danga pergi ke kubur ibunya. Ia lalu bersemedi dan berdoa seperti cerita adiknya. Tak berapa lama kemudian, batu kubur itu terbuka. Ibu dan Bapaknya segera menyambut Rambu Yaku Danga dengan gembira. Rambu Yaku Danga terus menyampaikan permohonan kepada ibunya.
Setelah itu ibunya menyuruh Rambu Yaku Danga pergi mandi ke sungai dengan pesan yang sama seperti kepada adiknya terdahulu. Dengan langkah gontai Rambu Yaku Danga turun ke sungai untuk mandi. Tetapi sebelum terjun ke sungai ia memetik buah jeruk sesuai dengan pesan ibunya. Diatas pohon jeruk itu, terdapat banyak sekali buah jeruk. Ada beberapa buah jeruk yang telah masak, dengan warna kulit yang kuning dan sangat menarik. Buah masak yang warna kuning itu lalu dipetik. Kemudian dibelah dua. Belahan atas disimpan dalam sarungnya dan belahan bawah dipakai untuk mandi.
Segera setelah mandi, pada saat ia hendak berganti sarung, tiba-tiba keluarlah seorang lelaki tua yang sudah beruban rambutnya. Betapa terkejutnya Rambu Yaku Danga lalu segera berlari mengadukan hal ini kepada ibunya. Akan tetapi dangan tenang ibunya berkata, “jangan tanya apa-apa lagi kepadaku; “panggilah orang itu karena dialah suamimu! Nama orang itu Umbu Mada Mundi”.
Rambu Yaku Danga dengan tegas menolak orang itu sebagai suaminya. Bahkan ia mengomeli ibunya dengan berkata, “Mengapa untuk Rambu Kahi Leba itu memberikan suami yang muda dan tampan, tetapi padaku……?”
Tetapi dengan cepat ibunya menegaskan , “percuma kau bersoal jawab denganku. Sebab orang tua itu pilihanmu sendiri. Bukankah sudah kukatakan, petiklah buah jeruk yang tidak terlalu muda ? menapa engkau melanggar pesan ibu dan memetik buah jeruk yang tua? oleh karena itu jemputlah Umbu Mada Mundi dan segeralah kembali ke ‘bumi atas’ sebab belum waktunya engkau menetap disini !”
Setelah itu Rambu Yaku Danga bergegas menjemput Umbu Mada Mundi dan kembali ke ‘bumi atas’. Namun dalam perjalanan kembali, diam-diam Rambu Yaku Danga membunuh suaminya yang tua itu. Lalu ia melanjutkan perjalanannya sendirian ke rumah. Tetapi ditengah jalan Rambu Yaku Danga diterkam oleh binatang buas dan dicabik-cabik. Dua hari kemudian berita kematian Rambu Yaku Danga tiba pada adiknya Rambu Kahi Leba dan suaminya.atas inisiatif Umbu Ndilu Djarriku, mayat Rambu Yaku Danga diangkat dan kemudian dikuburkan dengan upacara adat orang Sumba. Kini tinggallah Umbu Ndilu Djarriku dengan istrinya Rambu Kahi Leba dirumahnya. Mereka hidup rukun dan bahagia.

Inilah kisah hidup dua gadis yang bersaudara tapi nasib mereka berbeda. Yang setia dan taat selalu bernasib untung. Sebaliknya yang jahat dan tidak taat selalu bernasib malang.

KADHAPPU

( Cerita Dalam Bahasa Daerah Sumba Timur )

Ammangu ninya na ha’attu tau kawini raiingu. Dha dhua dha ana na. Na ha’attu na tamuna : Kadhappu ya, na ha’attu na tamuna : Luwwa ya. La hau lodu na inna dha i Kadhappu dangu i Luwwa lua nanya paramma la wuaka. Ba ndedhi pa na laku lawuaka hiwannanya i Kadhappu : jiaka na hii i Luwwa tununya Luwwa tayi na erimu i Luwwa. Bhanna hii ka na erina i Luwwa kakana ndii nanyaka na pa panii na na inna na. Hiwanna bhanna kareuku meha tunnu ya tiangu i Luwwa erimu jiaka na hii wanna.
Ka yappa madhua na nyakka i Luwwa erina hinna honduya dhangngu hinna tunnu ya la epi. Bhanna hallaka pa tunnu ya, kawotu na nyakka la hi ndi. Bhanna takka ka na inna na welingu la wuaka ka pa’arrana nyaka i Kadhappu. Malla na erimu na nganguka nyuna bhau tunnu nya luwwa ai?  Hinna hiama ya na inna nai Kadhappu, inna ngidji-ngidji ngandu i ari.Kahanduka dirra matikki ya ka na inna na hinna pama nda nya kapeku pa lanyappu nya ngau matambana ba wanna. Hinna pittiya na kabha pangarri kamba humba, hinna pa tambakkunya la lata ma ndapu na i Kadhappu, dhangngu hapungngu na napangari tamiang, hina pa dhumbukkunya la tubbha kalili na i Kadhappu. “Laku wa la utta muru la kabha watu, angngu la rokappu la liangu, kau njadhi tau rumba tau tana”. Ndakku ana anggau pa dangngu inna a nggappa, la rehi nuu ka. Karraku madhua na nyakka njadi bhuti. Jhia dhu yakka lundu nahhu, la kaluaka tau humba dangngu namma nda ngangu tolu bhuti, bha weli nda la bhuti dha umbu apunda bhawanda.
Didi ayya na huppu njappu na.

( Cerita Dalam Bahasa Indonesia)
Dahulu hidup seorang Ibu dengan dua orang anak, anak pertama bernama “Kadhappu” sedangkan yang  kedua bernama Luwwa. Suatu saat Ibu berpesan kepada Kadhappu sebelum pergi ke kebun untuk bekerja, katanya : “jika adikmu Luwwa ingin makan, bakarlah  Luwwa (ubi),” Ternyata apa yang menjadi pesan Ibunya pada Kadhappu benar, Luwwa menangis sambil berkata : “bakar Luwwa(ubi), bakar Luwwa(ubi).” Kadhappu jadi bingung atas tangisan adiknya.
Kebingungan bercampur dengan tangisan adiknya, Kadhappu berkesimpulan bahwa adiknya Luwwa yang dibakar akhirnya Kadhappu mengikat adiknya untuk diletakkan di atas kayu, lalu dibakar seperti pesan Ibunya sebelum pergi bekerja dikebun.
Setelah pulang dari kebun Ibunya bertanya : “ Apakah adikmu sudah diberi Ngidji-ngidji ngandu ari?” (bakar-bakar tubuh adik) mendengar  pengakuan Kadhappu, ibunya merasa terpukul dalam duka yang mendalam sambil merangkul Kadhappu dan menempatkan sebagai binatang hutan.
Dengan mengambil tempurung pembersih kapas Sumba, lalu ditempelkan pada pantatnya bersama sebatang tamiang (bambu pembuat suling).
Ibunya mengutuk Kadhappu menjadi kera serta diusirlah ke hutan belantara atau ke gua sebagai hewan liar dan makanannya hanya buah-buahan. Setelah Kadhappu merangkak seperti kera dalam bahasa sebagaimana lasim binatang kera.
Melalui pengalaman inilah sampai saat ini kalangan orang Sumba Timur banyak yang tidak makan daging kera, karena Kadhappu yang dikutuk  jadi kera merupakan bentuk atau wujud dari kesalahan menerjemahkan pesan yang salah. Mereka beranggapan  bahwa manusia berasal dari kera dan masyarakat Sumba Timur menjadi trauma, walaupun hanya dalam dongeng.
Demikian cerita rakyat ini, semoga dapat bermanfaat bagi generasi muda dan masyarakat Matawai Amahu dan Pada Djara Hamu.


Pesan  atau amanat   :
Orang tua harus sabar  menghadapi kesalahan –kesalahan dibuat  oleh anak-anaknya dalam segala hal tidak mendatangkan kerugian  lebih besar.
Bentuk cerita             :
Bentuk prosa
Pengaruh cerita ini bagi masyarakat sumba timur :

Banyak orang sumba timur yang tidak  makan  danging kera karena trauma dengan cerita ini.